Kamis, 09 Oktober 2008

4 - Catatan Perjalananku Menuju Kesempurnaan Islam

PERPISAHAN KEPULANGAN
Makkah 25 Januari 2006 / 25 Dzulhijah 1426 h - (Mengumpulkan Kopor)


Abi - hari ini kembali melakukan umroh yang ke-7. Saat kepulangan sudah semakin dekat. Barang-barang sudah mulai di packing. Air zamzam tambahan semula sudah dimasukan ke koper harus dikeluarkan lagi, karena jerigen air kita akan dibolongi petugas garuda. Demikian informasi yang menyesatkan kita agar tidak membawa air zam zam melebihi batas. Menurut informasi, juga tidak boleh ada tambahan tas tentengan, karena dikawatirkan akan memperlambat kepulangan. Sementara ada barang bawaan kami sudah beranak karena diisi oleh-oleh untuk anak-anak /keponakan/ kakak / adik.

Dua (2) hari sebelum pulang kopor-kopor para jemaah dikumpulkan dibawa secara kolektif oleh petugas Maktab ke bandara. Dengan demikian diharapkan akan melancarkan kepulangan kami ke Indonesia. Banyak diantara kopor jemaah termasuk koporku telah berbadan dua. Hal ini disebabkan adanya bungkusan tambahan yang disisipkan didalam kopor terhadap barang-barang yang kurang berharga dibanding oleh-oleh pembelanjaan kami di Makkah. Dengan demikian para jemaah tidak terlalu berat mengangkat tas jinjingannya apalagi rata-rata berat kopor kami belum mencapai 35 kg. Kopor itu diikat dan diberi tali rajut dan dikumpulkan pada hari ini oleh petugas Maktab dan dikirim ke bandara King Abdul Aziz di-Jeddah.

TAWAF WADhA DAN
MENINGGALKAN KOTA MEKKAH
Makkah 26 Januari /dzulhijah 1426 H


Tawaf wadha adalah tawaf perpisahan. Pertemuan atau berada di Ka`bah vmemiliki kesan tersendiri bagi setiap orang yang mengerjakan haji atau umroh. Baitullah menjadi sumber kerinduan bagi seluruh jemaah haji.

Setiap jemaah yang meninggalkan ka`bah rindu untuk kembali kesana, bahkan tidak sedikit jemaah yang meneteskan air mata karenananya.
Jam 02.00 dini hari aku membangunkan Abi, agar dia dapat menunaikan sholat malam dan sholat shubuh pada hari-hari terakhir kami di Makkah ini di Masidil Haram. Aku sudah tidak dapat mengikuti amalan ini, berhubung sudah mendapat halangan. Nanti pada saat dhuha para jemaah haji kloter 27 harus melakukan tawaf Wada sebagai tawaf yang terakhir meninggalkan ka`bah.
Karena aku tak bisa melakukan tawaf karena berhalangan, maka aku berkesempatan untuk melakukan amalan terakhir dari suatu perjalanan haji dengan membaca doa di pelataran Sai. Aku berdua dengan temanku “Asminar” mengupayakan berdiri tetap pada posisi tetap membaca doa di Mulatazam.
Simaklah doa yang dibaca sebagai berikut :
“Ya Allah rumah ini adalah rumahMu, aku ini adalah hambaMu. Dst. Engkau telah membawa aku dimana engaku sendiri yang memudahkan aku mengunjugi Baitullah ini. Engkau jalankan aku kenegriMu dan engkau telah jmenyampaikan aku dengan nikmatMu sehingga engkau telah menolong aku dalam menunaikan ibadah haji ini. Kalau engkau rela, maka tambahkanlah keridhoanMu padaku, jika tidak maka tuntaskan sebelum aku jauh dari rumahMu ini. Sekarang sudah saatnya aku pulang…….. dst. Ya Allah bekali aku ini dengan kesehatan pada tubuhk, sera tetap menjaga agamaku……dst
“Ya Allah janganlah engaku jadikan waktu ini masa yang terakhir bagiku dengan rumahMu. Sekiranya engakau jadian mas terakhir, maka gantilah surga untukku, dengan RahmatMu , Wahai tuhan Yang maha Pengasih dari segala yang Pengasih, wahai Tuhan pemelihara seru sekalian Alam.
Ini panduan doa yang kubaca dengan penuh keharuan, yang dapat mewakili hasrat dan keinginan kita untuk berjelas-jelas dengan Allah.

Tidak tahan akan perpisahan ini, aku meneteskan airmata. Demikianllh ketika kau berbalik meninggalkan Ka`bah aku berdoa dengan setengah memaksa.
“Ya allah berikan aku kesempatan untuk mengunjungi Baitullah ini berulang-ulang kali Ya Allah. Sehatkan diriku. Berikan aku kemampuan dan limpahkan aku dengan rezekimu untuk mengulanginya
Pada jam 14.00, hari Kamis Tanggal 26 Januari 2006 atau 2 dzulhijah 1426 H, setelah dilakukan pengecekan satu persatu atas diri jemaah sesuai dengan paspor masing-masing, maka kami meningalkan kota Mekkah dengan lambaian tangan pengelola maktab Yang Arabic. Sampai jumpa……………………..

Dengan uraian panjang catatan perjalanan menuju kesempuranaan Islam, sesungguhnya aku dapat memetik hikmahnya, bahwa :
a. Haji merupakan perjalanan wisata suci, karena semua rangkaian kegiatannya merupakan ibadah
Rasulullah dalam Sabdanya :
Tidak ditekankan berpergian, kecuali pada 3 Mesjid, yaitu Mesjidil Haram, Mesjidku ini (Nabawi di Madinah) dan Masjidil Aqso.

b. Haji laksana Mutamar tahunan : diaman kita saling berkenalan, saling tolong – menolong, dan tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin.
c. Haji sebagai cara membaesarkan syiar Allah, karena terasa disaat kita melaksanakan amalan haji semua terpusat pada satu-satu pusat tertentuuntuk mendekatkan diri pada Allah SWT.
d. Haji sebagai penyerahan diri total kepada Allah SWT, karena pengorbanan jiwa raga dan harta kita.
e. Ibadah ini membutuhkan ketahanan, kemampuan, fisik selama perjalanan, wukuf, mabit melemparJumroh, tawaf, dan sa`i. Dengan kehadiran jutaan manusia, maka ketahanan fisik inilah yang lebih dominan.
Bersyukurlah aku bahwa kesehatan serta keselamatan yang diharapkan dalam perjalanan haji dapat aku diperoleh dengan tiada henti-hentinya aku mengucap syukur pada ilahi. Ini tidak lain berkat doa anak-anaku/ kakak-kakakku/ adik-adikku / kerabat handai tolan. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan nikmatnya kepda mereka atas doanya kepada kami berdua. Amin.

Demikian pula kerja dari Tim kesehatan haji pada kloter kami yang secara serius menangani kesehatan para jemaah atut kami syukuri pula… nikmatnya kepada 2 orang ibu ini. Amiin ya rabbal alamiin.

Yang perlu diperhatikan
ETIKA BERPERGIAN DALAM HAJI
1. niat yang benar
2. istikharah (minta dipilihkan)
3. bermusyawarah (meminta pendapat)
4. meminta maaf dan membebaskan diri dari orang lain
5. meminta izin keada orang tua atau kerabat dekat
6. menulis wasiat
7. menugasi seseorang untuk melindungi dan menjaga keluarga yang ditinggalkan
8. mempelajari manasik haji dan umroh
9. taubat yang tulus
10. membawa bekal (biaya hidup) secukupnya
11. memilih teman yang baik
12. jumlah anggota dalam satu regu hendaknya tidak kurang dari 3 orang
13. wanita yang sudah lanjut usia sebaiknya berpergian dengan mahromnya
14. berpamitan kepada keluarga dan handai tolan, tidak perlu dengan acara yang besar-besaran.
15. berpagi-pagi ketika keluar rumah (berangkat)
16. memilih pemimpin reu yang berilmu, walaupun belum pernah berhaji
17. senantiasa berzikrullah dan memperbanyak doa
18. saling menyayangi,dan tolong menolong antara para jemaah
19. selalu komit pada sunnah pada ssaat istirahat.
20. memelihara anggota badan dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah
21. amar ma`ruf nahi mungkar
22. menahan diri dari menyakiti orang lain
23. menjauhi kata-kata kotor, perbuatan fsik, dan perdebatan atau pertengkaran saat haji dan umroh.
24. memperbanyak tafakur
25. bersungguh-sungguh untuk komit sunah dalam manasik
26. membantu dan melayani ornag lain
27. senantiasa bertaqwa kepada Allah
28. memelihara sholat pada waktunya
29. memperbanyak sedekah.
30. segera pulang jika telah selesai melaksanakan ibadah hai
31. singgah dulu di Masjid dan sholat dulu 2 rakaat sebelum masuk rumah saat pulang
32. memberikan oleh –oleh kepada keluarga dan karib kerabat
33. membuat (menyediakan) makanan untuk orang-orang manasik
34. membantu dan melayani ornag lain
35. senantiasa bertaqwa kepada Allah
36. memelihara sholat pada waktunya
37. memperbanyak sedekah.
38. segera pulang jika telah selesai melaksanakan ibadah hai
39. singgah dulu di Masjid dan sholat dulu 2 rakaat sebelum masuk rumah saat pulang
40. memberikan oleh –oleh kepada keluarga dan karib kerabat
41. membuat (menyediakan) makanan untuk orang-orang manasik
42. membantu dan melayani ornag lain
43. senantiasa bertaqwa kepada Allah
44. memelihara sholat pada waktunya
45. memperbanyak sedekah.
46. segera pulang jika telah selesai melaksanakan ibadah hai
47. singgah dulu di Masjid dan sholat dulu 2 rakaat sebelum masuk rumah saat pulang
48. memberikan oleh –oleh kepada keluarga dan karib kerabat
49. membuat (menyediakan) makanan untuk orang-orang


Catatan :
Group kami : Rombongan 5, Regu 19 dan 20 – Kloter 27 Embarkasi Jakarta.

1. Safrul Adlin, ST
2. Dra. Halimah, MS
3. Ir. Siddiq Suroso, MT
4. Ir. Nizhamul Latif, M.Sc
5. Hifni Hafida, SH
6. Enggay Sugati
7. Drs. Sri Widayati
8. Mundariah
9. Asminar
10. Nursamsu
11. Ir. Nur Triharjanto
12. Dra. Rosika
13. Dr. Zainal Arifin
14. Nur Helena
15. Masnelli Lubis
16. Ahmad Sarbini
17. Ir. Uni Heriati
18. Armida
19. Dr. Ir. Haris Yadda
20. Dra. Andi Rachmadian, MS
21. Taufiq
22. Dewi Nastiti
23. Ir. Bambang
24.Dra. Rety Rahayu

3 - Catatan Perjalananku Menuju Kesempurnaan Islam

PELAKSANAAN IBADAH HAJI - HARI TARWIYAH

Badanku terasa lemah membayangkan apa yang akan terjadi di Arafah. Akan mampukah padang pasir ini menampung jutaan manusia? Bagaimana pengaturan lalu lintas ke sana/ bagaimana hal-hal yang manusiawi lainnya yang harus kita persiapkan baik secara fisik dan mental. Sering kita dengar di tanah air, bahwa ujian ketika akan menunaikan ibadah haji ini luar biasa. Ada yang berjam-jam mengalami kemacetan untuk menuju Padang Arafah itu.
Demikianlah, rombongan kami diberangkatkan oleh petugas Maktab pada hari Tarwiayah, bertepatan padahari Minggu tanggal 8 Januari 2006, setelah ba`da dzuhur. Aku mempersiapkan diri secara jasmani dan rohani. Secara jasmani, aku berusaha menjauhkan diri dari gangguan manusia pada tubuh kita, seperti b.a.b dan segala sesuatu yang mesti kita keluarkan dari tubuh. Anehnya saat ini tidak ada dorongan, untuk mengeluarkan hajad dan hadas ini. Aku berusaha untuk melompat-lompat, namun aku ditertawai.
“Uni Evi … coba minum susu saja, agar semuanya lancar. Atau minum air putih sebanyak-banyak. Yakin deh.. dijamin lancar..!!, kata Asmeinar teman seregu kami member saran.
Benar saja, apa yang kuinginkan ternyata berjalan mulus. Sementara itu – sebagai persiapan rohani, mengingat perjalanan yang sukar diprediksi kepadatannya, kami melaksanakan sholat jamak takqim qosar.

Keberangkatan kami ke Arafah, dilakukan atur oleh petugas Maktab. Jarak tempuh Kota Mekkah menjuju Arafah adalah 21 gkm. Susana perjalan menuju Arafah berjalan lancer. Tidak ada kemacetan sebagaimana yang selalu dikawatirkan orang. Meskipun bus-bus pengangkut jemaah menuju Arafah sangat banyak, namun ternyata tidak terlalu padat.
Disini, Aku menyaksikan disaat menjelang Arafah, banyak para jemaah haji mandiri dari Negara-negara lain, mulai memasang tikar dengan berpayung langit. Sungguh luar biasa perjuangan mereka untuk melaksanakan rukun islam ke lima ini.

Mendekati lokasi Maktab kami, tiba-tiba ada diantara anggota rombongan kami mengalami gangguan tubuh – persis seperti yang semula aku kawatirkan. Ia mengalami sakit perut yang luar biasa. Mukanya terlihat pucat dan berkeringat menahan bom – yang sewaktu-waktu meledak tak tertahankan. Sementara itu Bus yang kami tumpangi masih berputar-putar mencari lokasi Maktab 44 – tenda tempat kami akan melakukan wukuf. Lagi pula, Pengemudi Bus tampaknya kurang terampil mengenali lokasi tenda kami.

Alhasil antara perjuangan dan daya juang untuk menahan gangguan pencernaan ini, anggota rombongan kami itu berhasil menahan dirinya tanpa didera rasa malu. Seandainya terjadi emergensi, yang tidak diinginkan, bisa kita bayangkan tidak saja akan berdampak pada rasa malunya namun juga dampak bagi anggota rombongan yang satu bus dengan kami itu.
Arafah dilengkapi pasilitas MCK yang memadai. Alhamdulullah tidak ada yang perlu di kawatirkan dalam urusan ini.


WUKUF : Hari Arafah - Tanggal 9 dzulhijah 1426 H

Wukuf adalah mengasingkan diri atau mengantarkan diri ke suatu “panggung replik” Padang Mahsyar. Suatu tamsil bagaimana kelak manusia di kumpulkan disuatu padang Mahsyar dalamformasi antri menunggu giliran untuk dihisab oleh Allah SWT.
Wukuf adalah suatu contoh sebagai peringatan kepada manusia tentang kebenaran Ilahi. Status hukum wukuf di Arafah adalah rukun yang kalau ditinggalkan maka hajinya tidak syah. Wukuf juga merupakan puncak ibadah haji yang dilaksanakan di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhizah.

Sebagai mana Sabda Rasulullah :
Alhaju Arafah manjaal jam`in kabla tuluw ilafji adraka alhajj
(diriwayatkan oleh 5 ahli hadis)
artinya : Haji itu melakukan wukuf di arafah “
Pada hari wukuf tanggal 9 zulhijad, yaitu ketika matahari sudah tergelincir atau bergeser dari tengah hari, (pukul 12 siang) hitungan wukuf sudah dimulai.
Yang pertama kami lakukan adalah, sholat dzuhur dan ashyar yang dilakukan secara bergantian. “Jamak Taqdim”, yaitu Sholat ashar dilakukan bersamaan dengan Sholat dzuhur pada waktu datangnya sholat dzuhur, dengan 1 x dan 2 x iqomat.

Setelah sholat zuhur dan ashar, disunatkan seorang Imam berkhotbah. Untuk memberikan bimbingan wukuf, penerangan, seruan – seruan ibadah dan panjatan doa kepada Allah SWT.
Setelah dilakukannya jamak takdim sholat dhuhur dan asyar, para jemaah haji disunatkan supaya menghadap Qiblat dan memperbanyak membaca doa dzikir dan AlQuran
Ketika berdoa disunatkan supaya menghadap Qiblat dan memperbanyak membaca doa zikir dan membaca Al Quran.
“laa ilaha illallaah wahdahula laa syarikalah, lahul mulku walahulhamdu, yuhyi wayumit, wahua hayyun layamutu biyadihil khair.
Wahua `alaa kuli syaiin qodiir”
Artinya : ya allah tiada tuhan selain allah tidak ada sekutu baginya
Baginya segala kerajaan dan puji
Dia yang menghidupkan dan mematikan. Ia hidup tidak mati
Ditangannya segala kebaikan dan dia Maha Kuasa.

Karena ada hadis Nabi yang mengatakan :
“ Sebaik-baiknya doa pada hari Arafah, dan sebaik-baiknya yang dibaca oleh nabi-nabi sebelumku yaitu : laa ilaha illallaah wahdahula laa syarikalah, lahul mulku walahulhamdu, yuhyi wayumit, wahua hayyun layamutu biyadihil khair.Wahua `alaa kuli syaiin qodiir” (Hadis Riwayat : Tarmidzi).

Terdapat 3 inti orang menunaikan ibadah haji.
a. Pertama pergi bertobat
b. Kedua pergi beribadat, dan
c. Ketiga pergi berdoa supaya ada perubahan dalam hidup sesudah haji.

Diantara hikmah ibadah haji :
• ibadah haji merupakan manifestasi ketundukan kepada Allah SWT semata dengan meninggalkan kemewahandan keindahan sebagaimana yang diungkapkan dalam berpakaian ihram.

• melaksakan kewajiban haji merupakan ungkapan rasa syukur atas nikmat harta dan kesehatan. Hanya orang yang mempunyai kemampuan ini yang diwajibkan menunaikan ibadah ini agar ia mendekatkan diri pada Tuhannya.
• Pelaksanaan haji adalah merupakan perkemahan Rabbani, yang disegerakan dan disetir oleh tuntunan rohani oleh yang Maha Kuasa, sehingga secara sukses mengatur beratus ribu bahkan berjuta manusia berkumpul di Padang Arafah itu.
• Umat islam dari seluruh dunia berkumpul pada pusat pengendali roh dan kalbu mereka di Padang Arafah ini. Disini sirna perbedaan kaya dan miskin serta satu sama lain saling menyapa dan mengasihi.

Bagiku yang terpenting, haji menyimpan kenangan di hati, mampu membangkitkan semangat ibadah dan ketundukan tiada kepada perintah Allah.

Kewajiban melaksanakan ibadah haji disyariatkan pada tahunke 6 H, setelah Rasululah SAW, hijrah ke Madinah. Setelah di Syariatkan , ternyata Rasul sendiri hanya 1 kali mengerjakan haji yang kemudian disebut haji wada. Tak lama sesudah itu beliau wafat.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan upacara peribadatan yang sangat erat hubungannya dengan syariat yang disampaikan Nabi Ibrahim. Disini meyakinkan kita bahwa agama yang dianut, kita bukan ajaran yang baru, tetapi agama yang pernagh diajarkan Nabi Ibrahim AS. Yaitu
- mengajarkan tauhid
- meng-Esakan Allah sebagaimana yang tercermin dalam talbiyah ketika kita berpakaian ihram

Arafah memang terasa lain bagi mereka yang wukuf di sini. Suasana Arafah hanya bisa dirasakan oleh orang yang menunaikan ibadah ini.

Jutaan manusia berkumpul disini untuk berzikir mengharap tuhan mendengar permohonannya. Bagaikan dengungan lebah atau gelombang samudra yang maha dahsyat suara bergema disekitar Arafah. Ucapan zikir jutaan manusia.

“Ya Allah hanya kepadamu aku menghadap dan hanya kepadaMu aku mengharap. Jadikan dosaku terampuni, haji diterima, kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatunya.

Di Arafah ini aku memohon ampunan pada Yang Maha Agung. Tiada Tuhan selain Dia yang maha hidup dan Maha mengatur segala makhluknya dan kepadaNya aku bertaubat.

Dzikir ini dibaca 100 kali oleh para jemaah dengan berurai air mata membayangkan segala kesalahan yang kita lakukan didunia.

“Aku datang memenuhi panggilanMu,..Ya Allah, aku datang memenuhi panggilamu tidak ada sekutu bagiMu. Aku penuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala sesuatu dan nikmat serta kekuasaan hanya milikMu tiada sekutu bagiMu.
Seribu macam doa dilafazkan untuk memohon ampunan. Menuju Allah memohon ampunan, memohon perlindungan dari godaan syetan, memohon limpahan rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW serta kepada saudara/ kerabat beliau.

Memohon ampunan bagi ayah, ibu, anak – anak, adik/kakak, saudara-saudara, kaum kerabat, guru, sahabat, dan orang-orang yang berpesan untuk didoakan dan semua orang yang berbuat baik kepada diri kita.
“Ya Allah ya Tuhan……… berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan diakhirat dan hindarkanlah kami dari api neraka. Semoga salam dan sejahtera tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW dan kepada para sahabat kami………………Amiin ya robbal alamin.

Khutbah wukuf disampaikan oleh Sdr. Askari – pegawai Kantor Kementrian KLH – adalah -salah satu anggota rombongan dari KUA – Serpong. Ia mempunyai wawasan keislaman yang sangat luas sehingga sangat menyentuh hati para jamaah yang berada dalam satu tenda dengan kami. Kami – para ibu-ibu - menangis dan meratap atas uraian khutbahnya. Ia berhasil menyadarkan kita bahwa sebagai hamba yang beriman kita belumlah apa-apa untuk berbuat untuk diri kita sendiri, untuk membela Islam, menegakan keimanan dan keislaman kita sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah.
Pengkhotbah berpesan, bahwa kita harus kembali kepada hal-hal yang dicontokan Rasulullah SAW. Janganlah kita hanya berpedoman pada Ulama semata, yang tidak sesuai dengan yang diperbuat Rsulullah. Kebanyakan kita terkondisi pada mazhab-mazhab bertentangan antara satu dan yang lainnya dan saling mempertentangkan dalil-dalil dan keyakinan diantara mereka

“ Saudara…… saudara lihatlah ......!! Para malaikat turun di Arafah saat ini. “Memohon ampunanlah kepada Allah …… serunya ber-api-api.

Ia mengingatkan kembali atas 3 pesan Rasulullah dalam kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga,yaitu:

1. Nabi Muhammad SAW, mengharamkan darah sesama muslim terbunuh akibat mempertahankan keyakinan yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah.
2. Jauhilah Riba, yaitu perdagangan yang tidak mengikuti syariat islam.
3. Lindungi istri dan anak oleh para suami/ayah. Kepada istri, layanilah suami/anak2 dengan sebaik mungkin serta berbaktilah kepada keluarga.

Kedekatan bathin antara kita dengan Allah SWT atas dzikir-dzikir yang kita lafazkan, seakan diri ini telah menyatu dengan tuhan Yang Maha Agung. Waktu antara dzuhur sampai dengan magrib di Arafah ini, terasa sangat singkat bagi kami.

Sementara itu, dihadapanku terasa ada yang sangat mengganggu suasana bathinku. Ada sebagian jemaah yang tidak memamfaatkan momentum untuk bertaubat ini. Aku menyaksikan masih ada para jemaah bercengkrama, bercanda ria antara mereka yang mengganggu konsentrasi kita dalam berzikir ini. Astagfirullah………………

Beberapa jemaah haji setelah mendengarkan khutbah ada yang tidur karena didera kantuk dan matanya yang lebih berkuasa atas diri ini. Bahkan ada yang pusing mendengar deru dan gelombang zikir dari seantero Padang Arafah yang dilafazkan oleh jutaan manusia yang sedang berwukuf.
Aku menyaksikan bagi hamba yang tidak siap dengan suasana ini, maka baginya suara ini sangat memekakan telinga. Kepala pusing mendera bagaikan ia sedang di rukyyah.

Disini aku dapat menyimpulkan bahwa:
->Bagi kalangan muda usia – perjalanan haji ini seakan perjalanan wisata dakwah. Betapa tidak, ……! Tidur ditenda dengan pasokan makanan/minuman berlimpah ruah yang disediakan oleh pihak maktab, sungguh sangat menyenangkan.
Bagi orang tua yang sudah uzur, suasana kesyahduan kurang memberi makna baginya, karena disebabkan factor kelelahan karena kekuatan fisik yang menurun.

Sungguh kesempatan yang berharga ini harus kita mamfaatkan untuk bertaubat kepada Allah SWT, berdoa agar diberi kesempatan lebih baik serta merobah sikap prilaku kita.

Rangkaian ibadah haji untuk menuju kesempunaan islam, manakala kita dapat menyelesaikan rukun secara sempurna dan khusuk. Suasana batin setiap jemaah memang tidak sama. Ketidak seriusan pihak lain seakan menjadi ujian bagi kita.
Beruntunglah aku, dimana regu kami memiliki komitmen yang sama untuk memamfaatkan momentum Arafah ini dengan berdoa dan berzikir sebanyak-banyaknya, sehingga kami merasakan kepuasan bathin yang tiada taranya. Sungguh ….suasana bathin yang belum pernah aku rasakan seumur hidup.

Aku bersyukur pula – Abi - memilih tempat khusus diantara bukit-bukit diseputar Arafah itu, menyampaikan doa wukufnya tidak jauh dari maktab kami. Bukankah ini menambah kekhusukannya, dibandingkan bila ia ada di tenda kami, yang saat itu sudah diisi dengan senda gurau para jemaah pria.




MABIT DI MUDZALIFAH

Senin,9 Dzulhijjah /hijriah

Perpindahaan jutaan manuasia dari Arafah ke Mudzalifah memang memerlukan kepiawaian tersendiri. Manajemen tranformasi dan transportasi manusia setiap tahun ditingkat kualitasnya.
Terakhir dengan sistem taraduddi, kekisruhan dalam mengatur jutaan manusia semakin diminimalisir.
Rombongan jemaah haji kali ini, sudah tidak mengalami kemacetan untuk menempuh perjalanan Arafah Mudzalifah sejauh 9 km, sebagaimana yang pernah dialami jemaah haji tahun-tahun sebelumnya.

Demikian pula menuju Mudzalifah - Mina sejauh 5 km. Maktab yang dirunjuk oleh masing-masing negara bertanggung jawab dalam penyediaan fasilitas diArafah, Mudzalifah, dan Mina.

Dalam antrian yang begitu panjang untuk memindahkan kelompok maktab yang terdiri dari, 2005 rngibu jemaah haji Indonedia tentunya memerlukan kesabaran kita dalam menunggu giliran. Belum lagi jemaah dari negara-negara lain. Jam 9 malam kami meninggalkan arafah dengan dengan perasaan bersih hati menuju Mudzalifah.
Salah seorang teman kami sdr. Ir. Nur Triharjanto menyatakan seandainya kita dapat melihat, maka di Arafah ini akan terlihat begitu banyak serigala, harimau, ular, berkeliaran setelah keluar dari tubuh manusia. Tentu yang dimaksudnya adalah sifat-sifat kebinatangan telah keluar dari tubuh hamba yang telah bertobat. Manusia telah suci bagaikan bayi yang baru lahir.

Sesampai di Mudzalifah jemaah sibuk mencari batu kerikil. Walaupun dalam tuntunan manasik haji yang dikeluarkan oleh badan penerangan haji pmerintah Saudi Arabia, bahwa mengambil batu di Arafahpun tidak mengapa. Kesempatan untuk hal inipun ada. Akan tetapi ada perbedaan, kamipun tidak berani memungut batu kerikil tersebut dari Arafah. Kadangkala seperti dalil dan keyakinan menimbulkan diskusi kecil-kecilan diantara kami. Seperti halnya ketika kami memulai perjalanan menuju Arafah dari Mekkah.
Jika kita mengikuti apa yang dilakukan Rasul, ketika menunaikan ibadah Haji - sunah Rasul - perjalanan untuk wukuf di Arafah, bermula dari Mina pada ba`da subuh. Namun kami diberangkatkan, pada satu (1) hari sebelum wukuf yaitu pada hari Tarwiyah. Pada hari Tarwiyah itu, pada ba`da dzuhur kami diberangkatkan dibawah koordinasi oleh Sub Daker – Makkah, yang dilakukan oleh Maktab masing-masing.
Maktab adalah penyelenggara akomodasi, transportasi dan logistik bagi para Jemaah Haji, yang telah ditunjuk oleh Pemerintah Indonesia melalui Departemen Agama. Bagi kita haji Jemaah Indonesia, telah bersepakat bahwa ketentuan yang ditetapkan pada buku manasik haji, tetap menjadi panutan kita dalam menjalankan rukun haji ini.

Kawasan Mudzalifah Masjidil Haram, dikelilingi bukit batu, menghembuskan angin malam yang menusuk tulang . semestinya pada kawasan ini, para jemaah disunahkan berdoa dan berzikir.

Aku bersin-bersin bersahutan dengan jemaah lain ketika angin malam menerpa wajah. Kami menunggu giliran untuk diangkut ke Minan, oleh petugas Maktab. Diantara kami ada yang dapat merebahkan dirinya sambil menikmati tidurnya yang dengan lelap. Sementara aku, walau kantukku mulai menyerang, namun hati ini susah untuk ditidurkan.

Hari sudah menunjukkan pukul 02.00 wib. Berarti saat ini di Indonesi menunjukkan jam 06.00. Aku mengirim SMS – pada Iman anakku, untuk menanyakan apakah ia sudah mempersiapkan diri untuk melaksanakan sholat Idhul Adha pada pagi ini.
Tak berapa lama kemudian akhirnya, aku tertidur sejenak dan terbangun ketika para jemaah bersiap-siap untuk melakukan sholat shubuh. Kami segera mengambil wudhu, namun setelah itu terjadi sedikit kegaduhan. Ada yang mengatakan agar menunda sholatnya shubuhnya, karena saat itu giliran rombongan kami yang akan diangkut oleh Bus . Namun ternyata menjelang azan subuh tiba, Bus yang akan mengangkut jemaahpun belum juga kelihatan. Akhirnya sebagian kami mempersiapkan diri untuk sholat subuh ketika azan berkumandang.
Ketika imam melafazkan takbiratul ihram - ketika itulah bus yang akan kami naiki datang menjemput kami. Petugas maktab sudah tidak sabar untuk mengingatkan kami agar kami segera naik keatas bus.
“Tariq…. Tariq Hajji …… Hajjah ……… Bus sudah datang”, teriaknya dalam bahasa Indonesia yang lancar. Hati ini mendua untuk meneruskan atau tidak sholat ini. Kami mencoba khusuk mneruskan sholat kami, walaupun petugas maktab yang Arabic tersebut sedikit dongkol. Sementara Imam sholat kami tetap membaca surat yang panjang dalam bacaan sholat yang diimaminya.
Aku berkata-kata dalam hati, apakah imam tidak sadar bahwa kami akan ditinggalkan bus ? bukankah akan lebih afdo, bila l ia membaca surat pendek saja. Asytagfirullah al adziim....................... Berat nian godaan ini.
Akhirnya kami bagian dari Maktab 39, adalah rombongan kedua yang terakhir meninggalkan Mudzalifah. Muatan bus itu semestinya untuk 50 orang dijejali menjadi k.l 70 orang, termasuk barang bawaan jemaah. Kami – jemaah Haji dihalau bagaikan ayam-ayam untuk dipaksa naik ke Bus oleh para petugas Maktab. Tahukah Anda, tidak ada sopan santun dan tidak ada keramahan. Hal yang serupa ini juga terjadi ketika kami meninggalkan Arafah pada delapan jam yang lalu.
Hatiku berkata : Ya... Allah inilah negeri yang disanjung oleh jutaan umat muslim didunia. Lebih-lebih kita orang Indonesia, yang senantiasa ingin menunaikan ibadah haji, dengan mempersiapkan keimanan dan harta benda untuk menuju tanah suci ini. Namun benarlah ternyata – sisa-sisa jahiliah – masih ada pada sebagaian besar bangsa Arab ini.
Bus yang kami tumpangi, terasa oleng ketika menuju ke Mina yang jaraknya 5 km. Aku hanya pasrah dan berdoa, agar tidak terjadi sesuatu apapun dengan bus ini. Bus berjalan terseok-seok menuju Mina. Aku menyaksikan begitu banyak jemaah negara lain menuju Mina dengan berjalan kaki dari Muzdalifah ini menuju Mina. Mereka memang memiliki stamina yang kuat bila di bandingkan dengan bangsa dari Sout East Asia / Asia Tenggara.
Mengenai pengelola Maktab, harap diketahui mereka adalah pelaku bisnis tahunan. Semakin efisien bus yang digunakan untuk mengangkut rombongan Maktabnya, maka semakin sedikit pengeluaran biaya untuk bus ini. Aku tidak melihat petugas haji Indonesia Daker/Sub Daker dalam pelaksanaan perpindahan massal ini. Semua semata-mata urusan Maktab. Bus yang disediakannya sangat terbatas bila dibanding dengan jumlah jemaah yang akan diangkutnya dalam 1 maktab k.l 2550 orang. Padahal, waktu shubuh di Muzdalifah adalah batas terakhir para jemaah itu harus meninggalkan Mudzalifah.
Matahari menampakkan cahaya kemerahan di ufuk timur Muzdalifah. Waktu berjalan dari menit ke menit, Tidak terasa bus yang berjalan terseok-seok itu semakin mendekati Mina. Sesampainya kami di Mina, matahari sudah menampakkan sinarnya.
Di Mina ini, kami akan menginap selama 3 malam dalam tenda-tenda yang be AC. Didalam tenda besar itu – terasa menjadi sempit, karena ditempati oleh dua rombongan - setara 80 orang jemaah. Kami tidur bagaikan ikan pepes, karena demikian sempitnya. Entah siapa yang benar – entah mana yang salah – sesungguh nya kondisi ini tercipta karena diantara rombongan dua rombongan tidak ada yang meng – alah untuk mencari tenda yang lain.
Walau hati ini ingin bertanya – namun tidak perlu bertanya, agar kita tidak semakin didera oleh gerutuan yang akan mengakibatkan kurangnya kekhusukan dalam kita menunaikan rangkaian prosesi ibadah haji ini.
MABIT DI MINA - 10-13 Djulhijah 14226/

Mina secara harfiah adalah tempat tumpahan darah binatang yang disembelih. Mabit di Mina merupakan kelanjutan dari pelaksanaan ibadah sebelumnya.


Ada dua ibadah yang wajib dilakukan jemaah selama di Mina, yaitu:
a. Pada hari Nahar, melempar Jamarat yaitu Jamratul Aqobah
b. Pada hari Tasrik - selama 2 hari berturut-turut bagi yang memilih Nafal Awal dan 3 hari bagi yang memilih Nafar tsani, yaitu melempar jamratul Ulaa, Wustho, dan Aqobah.

Ketika kami berziarah sebelum pelaksanaan ibadah haji, aku sudah melihat kawasan Mina ini tidak begitu luas, namun berbeda apa yang kita alami ketika para jemaah melakukan mabit diwilayah ini.

Ternyata kawasan ini menjadi luas secara otomatis. Hal ini sesuai dengan ucapan Rasulullah SAW : “sesungguhnya Mina ini seperti rahim seorang ibu, yang meluas ketika terjadi kehamilan.” Subhanallah…………………………..

Mengapa jamaah haji diwajibkan melempar jamarat ini ? Melempar jamratul Ulaa. Wustho dan Aqobaah tidak lain semata-mata mengikuti tuntunan, Rasulullah SAW.

Jadi, tidak ada yang perlu dikawatirkan jika berada tempat di sini. Melempari Jamarat adalah simulasi yang atas apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim, ketika beliau digoda oleh syetan untuk menyembelih putranya. Adapun kita melakukan kewajiban melempar jamarat ini adalah semata-mata mengikuti tuntunan, Rasulullah SAW.

Di Mina kami menempati tenda ber AC berlantai karpet, berjejal dalam 3 rombongan atas k.l 135 orang jemaah. Satu (1) maktab, terdiri dari 6 kelompok terbang. Kami bercampur dengan jemaah dari embarkasi Jakarta, Palembang, Solo, Surabaya, Banjar Masin, Ujung Pandang, sehingga jumlah jemaah haji pada satu maktab adalah 2550 orang.

Coba dibayangkan ! Dengan jumlah jemaah yang sebanyak ini, sementara toilet (MCK) yang tersedia hanya 20 bh/pintu masing-masing untuk pria dan wanita. Disini tingkat kesabaran kita diuji luar biasa, untuk memanfaatkan sarana MCK yang serba terbatas itu.
Menurut perhitunganku, kemampuan manusia BAB (buang air besar) dapat bertahan selama maksimal dua hari. Akan tetapi kemampuan manusia untuk menahan b.a.k (buang air kecil) adalah maksimal 6 jam. Apabila kita terdesak untuk mengeluarkan b.a.b dan b.a.k ini, kita harus antri minimal dibelakang 5 - 4 orang. Bisa Anda bayangkan, kita akan menunggu giliran waktu k.l 1 jam. Bila kita mempergunakan MCK waktu malam atau siang sama saja. Masya Allah……….

Pernah aku mencuri kesempatan mandi dengan mengguyuri tubuh dari dalam baju. Mengapa seperti itu ? Karena aku hanya mendapat jatah untuk sekedar buang air kecil bukan untuk mandi. Seorang ibu menawarkan agar aku bergabung dengannya. Tawaran yang baik ini aku terima dengan hati gembira. Tidak henti-hentinyaaku mengucapkan terima kasih pada wanita itu.. Akan tetapi aku tidak membawa perlengkapan mandi. Ibu ini, menawarkan sabunnya. Alhasil demi kenyaman tubuh dari keringat, aku guyur badan itu tanpa menggunakan handuk. Aku pulang basah kuyub dari kamar mandi ketempat Tenda rombongan kami. Ini tidak mengapa karena toh baju bisa diganti ditenda.

Didalam MCK penuh dengan ceceran pembalut wanita pantyliner para wanita. Keadaan sampah disetiap kamar sudah menggunung. Aku berfikir, kita wanita Indonesia kok bisa seenaknya tidak membuang kotoran itu ke tempat sampah yang disediakan.
Pada Suatu ketika, seorng ibu - usia k.l 60 an tahun, secara sukarela menyapu sampah tersebut dari setiap kamar mandi. Iba hatiku melihatnya. Beliau ini bukan Celaning Service. Ia hanyalah seorang volunter yang ingin berbuat amal demi kebersihan bersama. Lama-kelamaan, sampah yang dikeluarkan dari tiap-tiap kamar mandsi, semakin menggunung. Ia tidak akan sanggup mendorong sampah – sampah tersebut. Lillahi ta ala aku segera membantu ibu tersebut dan mendorong gunungan sampah tersebut yang ternyata lumayan berat. Terasa berat untuk mendorong dan menyapu sampah-sampah itu. Apalagi bagi sang ibu tesebut. Aku memijat punggungnya yang tua dan berkata kepada dengan doaku :
“ Ibu saya mendoakan ibu …… agar pekerjaan ini menjadi amalan sholeh bagi Ibu. Amiin ya rabbal alamiin.

Pengalamanku dengan MCK ini luar biasa. Sebuah KBIH dari Jogyakarta, kalau tidak salah “ MT AISYAH Jogyakarta - menyepakati agar kamar-kamar mandi wanita ini, dilakukan pemisahan antara untuk kepentingan sekedar b.a.k/b.a.b dan untuk Mandi. Semua sudah tertulis rapi dan jelas. Namun ada saja, diantara wanita-wanita ini yang tidak peduli atas ketentuan yang spontan diciptakan demi kebaikan.
Begitulah, kebiasaan mengatur demi kebaikan bersama harus aku lakukan. Seorang ibu yang tidak peduli dengan kesepakatan itu, harus aku bujuk agar dia mau berpindah tempat. Ia bermaksud mandi, namun ia antri pada tempat KPC/KPB. Dia ngotot tidak bersedia pindah tempat, berhubung dia sudah merasa pada antrian terdepan pada MCK yang dikhususkan bagi KPC/KPB ini. Ketika itu aku menunjukkan padanya – dimana seorang ibu yang sedang mengeluarkan hajat kecil di tempat wudhu. Tampaknya ia tidak mampu menahan KPC. Aku berkata pada si Ibu ini :
“Tahukah ibu, jika ibu tidak mengikuti kesepakatan ini, maka akan semakin banyak ibu-ibu yang lain mengeluarkan pipis sembarangan tempat. Dan itu akan menjadi genangan najis.”
Akhirnya setelah menyaksikan kejadian seorang mbah-mbah pipis sembarangan, maka beranjaklah ia pindah ketempat yang sesuai dengan peruntukan kamar mandi itu.
Secara tidak sadar, Aku bertindak sepertti Asykar Putri di Masjid Nabawi - Madinah. AKu teringat, ketika berada di Mesjid Nabawi dulu, Men or Women toilet tertata bersih, karena ada asykar mengaturnya.
“Hajjah……. Hajjah…… Tariq……. Sana……….sana atau bawah……. Bawah teriakannya dalam bahasa Indonesia, manakala terjadi kemacetan di pintu masuk MCK. Mereka mengarahkan para kaum wanita yang ingin berhajad ke Toiley yang kosong. Nah….di Kawasan Mina ini, dengan sejumlah jemaah yang terkonsentarasi pada satu wilayah sacara bersama memang tidak semudah yang kita harapkan.

HARI NAHAR : 10 dzulhijah 1426 h

Yang disebut dengan hari NAHAR, adalah waktu afdhol untuk melempar jumratul aqobah. Pada jam 06.00 pagi ini – sebuah KBIH yang satu tenda dengan kami, membawa rombongan jemaahnya ke Jamarat. Dua jam kemduian mereka telah kembali. Dari rombongan ini kami mendapat informasi bahwa keadaan di jamarat masih lengang. Berdasarkan informasi ini, regu kami segera pula mengambil inisiatif untuk menyegarakan diri untuk berangkat menuju jamarat.

Harap diketahui. Kelompok kami yang terdiri dari teman satu kantor, teman satu kompleks dan satu kawasan adalah Jemaah Haji Mandiri. Mandiri dalam mencari pemahaman dalam menunaikan rangkaian ibadah haji. Kami bergerak mengikuti tuntunan yang ada pada saat manasik haji serta buku panduan yang dikeluarkan oleh Departemen Agama.
Menurut buku panduan ibadah haji, Jemaah Haji Indonesia dianjurkan agar melakukan melempar jamarat pada malam hari. Akan tetapi kita menyaksikan begitu banyak rombongan jemaah yang dikoordinasikan oleh KBIH tertentu – telah melakukan acara melempar jamarat ini. Atas dasar ini pulalah yang memicu semangat regu kami untuk bersegera pula menuju Jamarat itu. Apa yang tercantum dalam buku panduan itu menjadi terabaikan. Sementara itu bagi -jemaah pria pada rombongan kami – saat melempar jamaarat – merupakan saat untuk bertahallul awal. Ia akan melepaskan pakaian ihramnya dan akan mencukur habis rambutnya.

Ketika kami berangkat menuju Jamarat di pagi hari, pada saat sang mentari bersinar terang, aku menyaksikan manusia berbondong bondong dan berjalan kaki menuju jamarat. Suasan yang tercipta adalah suasan airbah mengalir diantara sungai-sungai. Ribuan manusia – bagaikan air bah itu - menembus terowongan Al Moaisem Sloughterhouse untuk menuju Jamarat. Kami tidak menyadari sama sekali bahwa pagi itu adalah waktu afdhol bagi para jemaah untuk melempar Jumaratul Aqobah.
Orang Afrika, Turkey termasuk warga negara-negara diseputar Negara Teluk, Balkan, Negara Asia Selatan; India, Pakistan, Afganistan yang berbadan besar-besar berjalan dengan tegapnya menuju Jamarat. Ketika itu Jamarat sudah sedemikian padatnya.
Menjelang Jamratul Aqobah terjadi deburan gelombang manusia yang bermaksud sama untuk melakukan lemparan. Terjadi pusaran yang luar biasa dimulut Jamratul Aqobah itu. Tidak ada lagi yang mau mendengar kata: Hajjii …. ..sabar ……sabar , untuk menyadarkan mereka agar mereka bersabar.
Saat ini ego manusia semakin kuat. Semua ingin masuk atau keluar dari pusaran itu. Aku menyebutnya pusaran syetan. Karena semua tidak mau mengalah untuk memberikan kesempatan lebih dahulu bagi yang berada di posisi depan

Jujur saja – tidak perlu kita menunjukkan orang lain dalam peristiwa ini, diri ini termasuk manusia yang tidak sadar diri akan arti sebuah kesabaran sesungguhnya.
Pada pusaran ini kita tak berdaya untuk menghindari diri dari jepitan sesamamanusia.
Kesalkah hati ini kepada para jemaah yang setinggi daun pintu itu. Mereka merambah diri kita – manusia Indonesia yang bertubuh mungil - bagaikan mereka berjalan di semak-semak belukar.

Bahuku serasa patah-patah oleh rambahan tangan mereka ketika mereka berusaha mendahului kami. Aku harus berdiri sesadar-sadarnya, bahwa aku tidak boleh jatuh dan terinjak. Jika jatuh, maka mautlah tantangannya. Semakin kita ingin berada pada posisi depan terdepan dari melempar Jamratul Aqabah itu, semakin terjepit badan ini. Sungguh malang nian kita yang berbadan kecil ini.

Abi dengan kekuatan tenaga dalam, berusaha melindungi diriku. Ia telah melakukan pelemparan. Ketika aku melempar batu yang pertama tidak sampai, bahkan mengenai kepala orang. Yang kedua masih mengenai kepala orang ……. Astagfirullah al adzhim. Begitu lemparan ketiga, barulah batu melayang ringan ke Jamarat. Kemudian hingga ada sepuluh batu, baru aku memenuhi syarat 7 buah lemparan pada dinding jammarat.

Ketika kami pulang, kami melihat gelombang manusia semakin bergelombang menuju jamarat.mereka berjalan tegap dan langkah lebar berucap :

Allahu Akbar…….. Allahu Akbar……. Allahu Akbar ………. Laa ilaa haillalahu wallahu Akbar…….. Allahu Akbar walillahilham……

Aku merasakan suasana desakan ini, pasti lebih dari yang kurasakan saat ini. Memang benar petunjuk yang diberikan panduan Manasik Haji yang dikeluarkan Departemen Agama, bahwa jemaah Indonesia hendaknya mengutamakan keselamatan saat melempar jamarat ini.
Sungguhpun waktu afdhol dalam melempar jamarat pada hari nahar ini yaitu waktu dhuha, namun bila tidak dilakukan pada waktu afdhol – tidak mengapa. Amalan tidak menyebabkan gugurnya kewajiban haji.

Dengan selesainya melempar Jumratul Aqobah, maka kami diperbolehkan melakukan Tahalul Awal, yaitu :
a. memotong rambut bagi jemaah wanita, dan memangkas rambut bagi jemaah pria.
b. Bagi pria telah diperbolehkan melepaskan pakaian ihramnya.

Sedangkan Tahalul Qubro dilakukan, nanti setelah kami melakukan tawaf ifadhah dan sa`i.



MELEMPAR JAMARAT (Hari-Hari Tasyrik)
tanggal 11,12,13 Dzulhijah 1426 H

Pada hari ke 2 di Mina atau tanggal 11 januari 2006, kami lebih santai dalam melakukan pelemparan.
Rencanya, kami akan melakukan pelemparan 3 jumrah pad ba`da asyar hari itu. Namun karena kami dilarang oleh pihak Maktab, serta informasi yang sayup-sayu kami dengar terdapat accident di seputar jamarat. Sekian ratus jamaah haji asal India, dll mengalami cidera tubuhnya, akibat terhimpit dalam desakan di Jamarat itu.

Untuk mengantisipasi gangguan keselamatan inilah, maka para petugas Maktab – berbangsa Arab melarang kami menuju jamarat. Menurut mereka, di jamarat masih sangat padat, sehingga akhirnya kami melakukan pelemparan yang kedua kalinya ini pada jam 10 malam.
Sementara itu, mengingat lokasi jamarat k.l 3,5 km dari tenda kami. Kami mulai mendiskusikan, apakah diperbolehkan bila kita melakukan lemparan ketiga pada jam 2 dini hari berikutnya ? Sehingga - kita akan berdiam diri dengan melakukan mabit disekitar lokasi jamarat, menunggu datangnya waktu untuk melempar jamarat untuk yang ketiga kalinya . Bukankah hal ini akan lebih efidien dari sisi tenaga kita.
Pada akhirnya, tidak satupun diantara kami yang mampu mencari dalil kebenaran akan efisiensi ini. Pernah aku bertanya pada salah satu ketua KBIH rombongan lain. Merekapun tak berani menjawabnya. Meskipun ternyata ia dan rombongannya (KBIH itu), mengambil kesempatan ini dengan melakukan pelemparan pada waktu yang tidak jauh berbeda, yaitu jam 10 malam (22.00 waktu setempat ) dan jam 2 malam dini hari berikutnya. atau berselang waktu selama 4 jam dari pelemparan sebelumnya. Wallahualam…...

Pada hari ketiga di Mina atau tanggal 12 dzulhijjah 1426 H, kami mengambil sikap atas ketidak pastian kapankah waktu yang diperbolehkan untuk melempar Jamarat. Ketua regu kami – Haji Syafrul Adlin, ST, berpendirian bahwa waktu dhuha tidak masuk hitungan penilaian. Sementara hari ini hari terakhir bagi orang yang memilih nafar awal. Jamarat akan lebih padat lagi dikunjungi oleh jamaah. Aku dan Aby berdua memilih setelah ba`da shubuh berjalan menuju jamarat untuk melakukan lemparan. Ternyata pada waktu itu lokasi sekitar jamarat masih dipenuhi oleh jemaah haji yang melakukan mabit.

Mabit artinya bermalam semalam. Sebagian jemaah berpendapat mabit di jamarat wajib dilkukan, karena lokasi tenda Maktab Indonesia termasuk Mina Jadid (baru), sehingga mereka beranggapan tidak afdhol apabila kita tidak melakukan mabit disekitar Mina Qodhim
Entahlah ….. faham manakah yang akan kita ikuti / kita akan semakin bingung. Semakin kita banyak mengetahui dalil orang semakin kita bingung memahaminya.

Regu kami bersepakat, untukmengikuti petunjuk yang diberikan Departemen Agama dengan tidak melakuka wira wiri dari Maktab ke lokasi jamarat dan tetap memilih waktu melempar pada jam yang ditentukan ,demi keselamatan diri. Ada hadist Rasulullah yang menyatakan bahwa Mina ini bagaikan rahim, seorang ibu yang mengembang sesuai kebutuhan. Jadi sebenarnya tidak mengapa bila kita Mabit di Mina Jahid saja.

Ada teknik melempar jumroh agar kita tidak terjepit dalam kerumunan manusia yaitu bahwa jamaratul yang saat ini memanjang k.l sepuluh meter. Kita dapat melakukan pelemparan pada ujung dinding terakhir, dimana kerumunan manusia yang berebut untuk melempar sudah berkurang. Alhamdulillah teknik ini dapat aku lakukan dan mempermudah pelemparan.

Ketika sebagian jemaah memilih nafar awal , terjadi insiden dalam pelemapran di Jamarat ini. Menurut informasi yang kami peroleh korban ada 300 orang diantaranya ada yang meninggal dan pingsan. Sebagimana yang pernah aku ceritakan pada halaman sebelumnya, jemaah dari Afrika,Turkey, dan mungkin beberapa negar ayang selalu memilih waktu afdhol untuk melempar, yaitu sat tergelincir matahari (ba`da dzuhur). Mereka semua berkehendak melempar pada waktu afdholtersebut, yaitu ba`da dzuhur, sehingga terjadi kerumunan yang luar biasa serta desakan manusia yang saling mendorong dan akhirnya terjepit.

Kami: aku, Aby, Bu Enggay, Bu Sri, Ibu Mundariah melempar Jamarat pada pulu; 06.00, pada jum`at tanggal 13 Ajnuari 2005. kami bersalaman dan saling mengucapkan selamat disertai dengan doa semoga menjadi haji yang mabrur. Sepulang dari melempar kami merasa berbahagia bahwa perjuangan kami dalam melaksanakan rukun haji ini, kami sudahi dengan selamat, terhindar dari resiko desakan manusia yang saling mendorong dan akhirnya terjepit. Dicuaca pagi yang yang cerah ini, kami menikmati gado-gado yang dijajakan oleh perempuan Madura. Nikmat sekali rasanya bila dibandingkan dengan makanan yang disediakan Maktab selama mabit berturut-turut makan “kari daging unta”.
Nafar Tsani, pada hari-hari tasyrik telah kami lalui dengan sempurna. Kami pulang ke penginapan di Mekkah, dengan kondisi bus yang sarat penumpang. Alhamdulillah

Dalam tuntunan manasik dijelaskan bahwa, diantara 3 pilar ulaa, wustha, dan aqobah para jemaah dapat memanjatkan doa dan menyampaikan hajat dan memohon ampunan kepada Allah SWT sambil tetap mengkadap Ka`bah.
Aku menyempatkan diriuntuk berdoa sambil berjalan diantara pilar yang satu ke pilar yang lain , yaitu agar aku mampu menuntaskan dan menyelesaikan amanah dari orang – orang tua dalam keluarga besarku dapat berjalan lancar.

Ya Allah berikanlah akukemudahan dan kemampuan untuk menyelesaikan urusan yang besar ini….. bahwa sesungguhnya ini adalah amanah dari orang-orang tua kami sesungguhnya ini adalah amanah dari orang-orang tua kami sehingga hasilnya diharapkan akan memberikan keselamatan bagi keluarga besar kami. Hanya kepadamulah aku memohon dan meminta perlindungan Allah……… Amin

TAWAF IFADAH & SA`I
Makkah 13 Januari 2006 /13 dzulhijah 1426.

Selepas Isya, kami melaksanakan Tawaf Ifadhah sebagai bagian dari rukun haji. Tidak sah haji seseorang apabila ibadah ini tertinggal dan ditinggalkan. Tawaf ifahdah ini menjadi sempurna sesuai dengan urutannya sebagaimana, yang telah diceritakan diatas anatara lain:
a. melakukan tawaf 7 putaran
b. sholat sunah dan berdoa dibelakang makam Ibrahim
c. meminum air zamzam
d. sa`i
dari ibadah rukun haji dan umroh adalah dengan melakukan tawaf ifadhah dan sa`I sebagai realisasii selesainya ibadah haji. Inilah yang disebut Tahalul Qubro.

Diantara melaksanakan rukun-rukun haji, seperti yang telah diceritakan dia tas, maka aku memantapkan diri bahwa selain tujuan kita berhaji melaksanakan rukun Islam ke -5, juga untuk berdoa kepada Allah SWT, demi menyampaikan hajad, pesan dan harapan kepada Allah serta bertobat kepa Nya serta tekad untuk mengubah sikap dan prilaku. Ya allah …. Sampaikan hajadku Ya Allah, mudahkan urusanku, maafkan aku……………

Makkah 16 Januari 2006 - Ulang tahu Aulia Ke -17

Pada jam 01.00 dini hari aku sengaja membunyikan alarm agar pada jam 5 pagi waktu Indonesia aku bisa menelpon Aulia anakku yang ke-2 saat ini memasuki usia 17 tahun. Hatiku sedih karena tidak dapat menghadiri Ultahnya secara bersama –sama. Terharu aku untuk mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Suaranya yang bening berucap : Nggak … apa… apa… Ma…, ketika aku menyampaikan Selamat ulang Tahun yang Ke – 17 ….semoga menjadi pohon yang rindang kelak dikemudian hari dimana banyak yang akan berteduh dibawahnya. Aku berkata jangan sedih karena mama dan papanya tidak hadir dalam ulang tahunnya. Kami menyarankan agar mengajak keluarga bear kami makan bersama diluar rumah.

UMROH
MAKKAH 16 JANUARI 2006 - 16 Dzulhijah 1426 H

Jam 02.00 dini hari setelah mngucapkan Selamat pada Aulia, Aby melaksanakan umroh yang pertama, (sesudah musim haji) dengan memulai miqot di Ta`im
Mesjid Ta`im disebut juga Mesjid sayyidah Aisyah – isteri Rasul Ibnu kaum muslimin. Letaknya 7,5 km sebelah utara Masjidil Haram, dipinggir jalan Makkah – Madinah, mesjid ini dibangun ditempat berihramnya Siti Aisyah ketika melakukan umroh pada pelaksanaan haji Waa (Haji Perpisahan). Banyak sekali para jemaah haji, selama masihdiMakkah ini melakukan umroh ini, seperti
Bangsa Afrika, Jazirah, Arab, Turkey, India, Pakistan, China serta bangsa –bangsa dari Asia Tenggara.
Bagi kami berdua yang ingin memamfaatkan waktu sebanyak-banyaknya untuk melaksanakan ibadah, maka ibadah haji kami laksanakan dengan sebaik – baiknya.
Adalah pelaksanaan

Tentang kewajiban umroh banyak hadis yang menunjukan hal itu diantaranya :
a. Sabda Rasulullah tatkala menjawab pertanyaan Jibril tentang Islam, dimana beliau menjawab bahwa haji dan umroh adalah pelaksanaan keislaman seseorang (hadis Ibnu Khuzaimah dan Ad Daraquthi dan Umar bin Khatab)
b. Hadis Aisyah :

Aisyah bertnya : “Wahai Rasulullah adakah kewajiban berjihad bagi wanita ?
Beliau menjawab : “Bagi wanita kewajiban berjihad tanpa peperangan, yaitu haji dan umroh (hadis Imam Ahmad dan Ibnu Majah).
Dalam buku sejarah Nabi Muhammad SAW karangan Al Haviz Ibnu Katsir, diceritakan bahwa Nabi Muhammad telah melaksanakan umroh sebanyak 4 kali, yang dikenal dengan umroh Hudaibiyah, Umrah Ji`ranah, Tan Im pada tahun ke -6 H. akan tetapi baik haji maupun umroh hanya diwajibkan sekali saja seumur hidup.

Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah Saw dalam Hadis Shahih :
“ Haji itu hanya sekali wajibnya. Barang siapa menambah melakukan lebih dari sekali, maka itu adalah amalan sunnah atas kerelaaan (tathawwu).”

Sebagai amalan tathawwu berdasarkan dalam shahih Al Bukhari dan Muslim;
Dari Abu Hurairah R.a ia berkatata Rasulullah bersabda :
“Dari umroh ke umroh adalah menutupi (kaparat) kesalahan-kesalahan yang terjadi antara keduanya. Dan haji mabrur itu imbalannya tiada lain adalah surga.
Ketika umatnya bertanya kepada Rasulullah apakah setiap tahun Allah mewajibkan hambanya untuk menunaikan ibadah haji, diwajibkan oleh Rasul : “Seandainya kukatakan wajib setiap tahun, maka ia menjadi wajib dan kamu tidak akan mampu mengerjakannya.

UMROH- Makkah, 17 Januari 2006 /17 dzulhijah 1426 H

Keesokan harinya akupun ikut melaksakan umroh besama Abi dengan memulai Miqot di Mesjid Ta`im. Cukup menarik juga tempat kami melaksanakn miqot ini, karena perbatasan miqotnya itu, dibuat persis di dinding depan mimbar IMAM selaku pemimpin sholat.
Di Mesjid ini setelah Tahiyatul Mesjid, aku melakukan sholat umroh dan dilanjutkan dengan niat “Labaika Allahmma umrotan”.

Udara pagi hari ini cukup sejuk membawa perjalanan kami untuk kembali ke Mesjidil haram terasa nyaman. Aku bahagia bercampur bangga rasanya karena aku menyangka terdapat lagi ibadah yang dapat kami lakukan selain ibadah haji. Betapa tidak ketika masyarakat Indonesia berangkat untuk umroh dari tanah air sekitar 9000 ribu – 12 ribu US dollar, kok kami dengan mudahnya membiayai perjalanan umroh ini tidak melebihi 10 riyal pergi pulang.
Pukul 04.30 kami samapi diMesjidil Haram untuk memenuhi rukun-rukun umroh, yaitu : Tawaf, Sa`I, Tahalul,. Mengingat rangakian rukun umroh dilakukan bersamaan dengan sholat shubuh tiba, maka ketika tawaf selesai kami laksanakan, kami menghentikan pelaksanaan sa`i. sa`I dilanjutkan setelah sholat subuh. Ibadah umroh diakhiri dengan bertahalul.


UMROH 2 - Makkah, 18 Januari 2006 /18 dzulhijah 1426 H

Teringat aku akan Alm. Papa yang tercinta yang berhasrat untuk menunaikan ibadah haji dan ku merasakan nikmatnya melakukan ibadah umroh ini, maka tanpa mencari dalil kebenaran, maka keesokan harinya aku kembali melaksanakan ibadah umroh atas nama Alm. Papa dengan menyebut :

Labaika Allahumma Umratan Ly Aby Almarhum. Djamaludin
Semua rukun umroh diniat dan atas nama Alm. Papa tercinta

Munkin ada yang memppertentangkan akan keabsahan ibadah ini namun yang aku jharap adalah ridho Allah Swt. Bahwa amalan umroh ini diperuntukan untuk beliau. Subhanallah ……….

Karena ada rencana berangkat ke Jeddah pada siang hari, maka hanya Abi yang berangkat umrohpada hari kamis tanggal 19 Januari 2006 ini. Rencananya Aby berumroh ke Ja`ronah, namun lokasi miqotnya cukup jauh, akhirnya Aby memutuskan untuk umroh di Ta im ini adalah pelaksanaan umroh i yag ke-4 kalinya.





WISATA KE JEDDAH/ LAUT MERAH - Makkah, 20 Januari 2006/ 20 Dzulhijah 1426 H

Untuk mengisi kekosongan selama di Mekkah kamipun mengisi waktu dengan wisata Ke kota Jeddah. Promosi kota ini cukup hebat, yaitu untuk melihat sepeda Nabi Adam As, Makam Siti Hawa, Mesjid Qisas, Mesjid terapung dan Istana Bawah Air. Sebagai kota internasional Jeddah merupakan kota perdagangan bebas seluruh produk negara didunia bersaing di kota ini.
Fasilitas hiburan yang tersedia dikota ini tidak beda dengan kota Jakarta. Kehidupan masyaratkatpun tidak beda dengan kota-kota lain diseluruh dunia. Aku terkejut melihat beberapa wanita tidak menutup kepalanya. Namun masih dalam batas-batas kesopanan mereka memakai baju panjang berwarna hitam. Begitupun ketika aku menduga beberapa wanita yang berlalu-lalang itu itu adalah wanita Indonesia, ternyata wanita Philipines, Thailand yang non muslim mereka umumnya bekerja di Jeddah sebagai karyawan perusahaan multi nasional yang ada di Jeddah ini.
Ketika kami makan siang pada pukul 14.00 di Mesjid terapung kami melihat keluarga Arab, mulai berdatangan untuk melakukan rekreasi pantai. Bagiku suatu yang aneh kok pada jam mendekati asyar ini mereka baru berdatangan. Mengapa bukan pagi hari ?. ternyata nadi kota-kota Arab baru hidup pada ba`da magrib hingga terbit fajar. Pada siang hari mereka tidur dirumah, ini karena pengaruh iklim setempat, dimana mereka menyesuaikan diri dengan alam setempat dengan cara menukar malam menjadi siang dan siang menjadi malam.

Aku menyempatkan diri berfoto dengan 2 orang wanita Arab yang lincah. Hal yang tidak bisa bagi wanita Arab bukan ?.aku mengajak mereka berfoto bersama. Mereka menyetujui dengan menggunakan bahasa Indonesia logat Madura.
Ternyata mereka TKW asal Madura yang sedang berekreasi di pantai Laut Merah. Oh ……. Pantas mereka lincah sekali……. Yang tidak mungkin dilakukan wanita Arab sesungguhnya.

I`TIKAF DI MAJIDIL HARAM
Makkah : Tanggal 21 Januari 2006 / 21 Dzulhijah 1426 H

Sambil mengisi malam minggu, aku dan Aby setelah sholat isya di Masjidil Haram, kami kembali melaksanakan ibadah umroh. Aku meniatkan ibadahku ini bagi Ibuku tercinta : Alm. Aunah Binti Bahsan

Aku menyampaikan permohonan ampunan untuk beliau, abik kesalahan maupun kehilafannya. Mohon diterima segala amal baiknya serta terimalah ia disisinya.
Ternyata umroh pada ba`da isya sangat padat sehingga mesjid tempat miqot ini penuh dipadati jemaah Turkey, Iran, Pakistan, dalam jumlah rombongan besar. Hampir semua jemaah melakukan ibadah ini dalam mewakili orang tuanya, suami, mertua. Dalam haji dikena badal haji, sedangkan umroh dilaksanakan seperti kita menunaikan ibadah dengan memenuhi rukun-rukun umroh. Tidak perlu mempertentangkan hal ini. Allah sendirilah yang kan menilai amalan hambanya sesuai dengan niatnya.
Setelah melaksanakan rukun-rukun umroh yang ditutup dengan Tahlul, kami melakukan I`tikaf / mabit di Masjidil Haram ini. Aku mengisi waktu dengan membaca Alquran yang kurencanakn untuk menghatam di tanah haram iniuntuk yang kedua kali. Jam sudah menunjukan 02.30. Namun suasana mesjid ini, baik orang bertawaf maupun bersai masih tetap ramai. Banyak jemaah Indonesia yang memamfaatkan untuk tidur di Mesjid ini . semula kami akan melanjutkan mabit sampai waktu subuh tiba, namun badan sudah terasa masuk angin, bersin-bersin, serta perut terasa mual karena menahan kantuk, akhirnya ittikaf kami akhiri dan kamipun kembali ke penginapan. Aku sedikit menyesal mengapa memilih pulang bukan menunggu waktu shubuh tiba, namun mengingat hasrat buang air kecil tak tertahan lagi, maka pilihan ini harus aku lakukan.

TAWAF DI LANTAI 3 MASJIDIL HARAM
Makkah, tanggal 23 Januari 2006 /23 Dzulhijah 1426 H

Tawaf mengelilingi Ka`bah sudah tak terhitung kami lakukan. Karena setiap mwmasuki Masjidil Haram ini, kami melakukan tawaf sebagai pengganti sholat Tahiyatul Mesjid.

Tawaf di lantai 2 sudah kami lakukan pada waktu hari Arafah pada waktu yang lalu. Pada kesempatan lain, kami mencoba untuk mealkukan sholat dilantai 3.
Suasana dilantai 3 ini terasa amat nyaman dan indah. Dengan mudah kita menyaksikan perputaran manusia mengelilngi Ka`bah. Dengan mudah kita melihat orang yang berjuang memperebutkan Hajar Aswardseperti Hijr Ismail.
Setelah shubuh kami masih ingin berlama-lama dilantai 3 Masjidil Haram. Dilantai ini kami bertemu dengan 6 dara yang masih kuat dan sehat asal Padang Panjang –Sumbar, namun mereka bertubuh mungil berjalan – jalan di lantai 3. Kami bertegur sapa dengan daa-dara ini, yang ternyata mereka bertempat tinggal di Aziziah, k.l 15 km dari Masjidil Haram. Setiap hari mereka berupaya ke Mesjid ini dengan menggunakan bus yang disediakan gratis. Kami tidak kelaut merah kantanya. Ketika kami bertanya sudah berziarah kemana saja beliau ini.Aby memperlihatkan camera foto mengenai suasana Jeddah kepadanya dan ternyata ini sangat memuaskan hatinya. Mereka menyatakan bahwa ini adalah kesempatan terakhir mengunjungi Ka`bah sehingga mereka memamfaatkan kesempatan untuk beramal sebanyak-banyak di Ka`bah ini. Wallahuala ……… hanya Allah SWT yang mengetahui apakah mereka masih diberi kesempatan untuk berkunjung ke Baitullah ini karena mereka sudah nenek-nenek 76, 73, 0,68,60 dan tang termuda berusia 56 tahun.
Dari pada melakukan sholat dhuha dilantai 3 ini , akhirnya kau memilih melakukan tawaf dilantai 3 ini. Keliling lantai 3 ini k.l 650 m, sehingga dalam 7 kali putaran setara dengan perjalanan 4,5. sehingga ketika aku mengitari Ka`bah tak terkira ayat-ayat suci yang kita lafazkan, antara lain :
e. Albaqarah 1-5
f. Albaqarah 254-255
g. Albaqarah 284-286
h. Surat Yasin
i. Surat Al-ikhlas, Al-alaq, An nas
j. Asmaul husna
k. Ayat 5
l. Dzikir dan doa
m. Doa rabbana atina berulang kali.

Mana kala letih, aku berhenti di bibir pagar lantai 3 ini, sambil tetap berdzikir menyaksikan lantai bagaimana ka`bah dibersihkan setiap ba`Da shubuh oleh petugas kebersihan, dengan tetap memberi kelonggaran orang untuk tetap bertawaf. Hijr Ismail dikosongkan karena harus dibersihkan. Namun sesaat pintu Hijr Ismail dibuka, aku melihat orang nerhamburan memasuki pelataran tersebut hingga berdesak-desakan untuk melaksanakan sholat mutlaq.
Pemandangan yang unik dari lantai 3 masjidil Haram, kita melihat jutaan manusia bagaikan butiran pasir bulat berputar disebuah kotak hitam dengan deru deburan suara bagaikan suara lebah. Dari atas ini, kita menyaksikan bagaimana manusia dengan keykinannya mengikuti sunah Rasul berupaya untuk mencum Hajar Asward dan memeluk-meluk ka`bah. Ada rumor yang menhatakan bahwa kita dapat menggunakan jokkey untuk menembus himpitan manusia menuju Hajar Asward. Seorang ibu dari Medan pernah ditawari untuk mencium Hajar Asward dengan 50 Riyal, Wallahualam……… hanya tuhan yang mengetahuinya.

Demi mengejar fadhilah banyak orang yang berharap dapat mencium Hajar Asward. Karena keutamaan mencium hajar Aswar ini sebagai ia menjadi saksi atas peritungan amalan atas amalan manusia serta dismbuhkan dari segala penyakit yang diderita. Banyak manusia yang memaksakan diri untuk mencium Hajar Asward ini. Demikian pula orang yang berebut Hijr Ismail. Hijr Ismail adalah bagaian dari Ka`bah tempat ini merupakan tempat yang paling mustajb untuk menyampaikan doa disini orang melakukan sholat Mutlaq 2 rakaat.

Minggu, 02 Maret 2008

2. Catatan Perjalananku Menuju Kesempurnaan Islam

Kegiatan Jemaah di Makkah Al Mukarramah

Tawaf, Sa`i, Tahal lul - Tanggal 28 Desember 2005

Kami sampai di kota Mekkah pada pukul 18.00. Kami mengalami keterlambatan dalam perjalanan Madinah – Mekkah selama 2 jam di bandingkan rombongan satu Kelompok Terbang kami. Rombongan kami menempati di maktab 39, rumah No. 400,di daerah Misfalah- kota Mekkah. Lokasi Misfalah berjarak 2 km dari Masjidil Haram.
Mengenai lokasi tempat tinggal kami, dapat Aku ceritkan pada Anda, bahwa wilayah Misfalah termasuk wilayah yang datar – dibandingkan wilayah pemukiman para jemaah haji lainnya di kota Makkah ini. Kota Mekkah adalah kota berbukit yang dikelilingi gunung.

Tempat penginapan kami sederhana dan tentunya kami harus terima dengan ikhlas

Bahkan diantara anggota rombongan kami, ada yang tidak mendapatkan tempat sama sekali seperti Bapak/Ibu Haris Yadda, Bapak/Ibu Zainal, Bapak/Ibu Ahmad Sarbini. Pasangan ini satu malam tidak mendapatkan kamar. Berkat kepedulian anggota rombongan yang lain, kami mengajukan keberatan kepada pihak Daker (Daerah Kerja), sehingga nasib anggota rombongan kami yang tidak mendapat kamar, mendapat penyelesaian. Akhirnya pasangan ditempatkan di sebuah hotel. Yang lokasinya tidak jauh dari tempat pemondokkan kami. Alhamdulillah.
Tawaf qudhum, sa`I dan Tahalul :

Setiap pengunjung kota Mekkah Al mukarramah, wajib menentukan Miqad nya, sebagai titik perjalanan, dimana ia harus menggunakan pakaian Ihram dan memasang niat untuk menunaikan ibadah haji atau umrah. Ketika sampai di kota Mekkah, para jemaah diwajibkan melakukan rukun umroh yaitu melakukan tawaf qudhum, sa`I dan tahalul.

TAWAF QUDHUM
Dalam pengertian umum ibadah Tawaf adalah mengelilingi Ka`bah sebanyak 7 kali dimana 3 putaran pertama berlari – lari kecil (jika mungkin) dan selanjutnya jalan biasa.
Tawaf dimulai dan berakhir di Hajar Aswad ( tempat batu hitam ), sehingga posisi Baitullah berada disebelah kiri Anda.

Ada beberapa tawaf yang dilakukan sejak pertama kalinya sejak Nabi Adam, hingga tawaf yang kita lakukan saat ini, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, antara lain :

a. Tawaf Nabi Adam :
Hadis Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA menceritakan, bahwa nabi Adam AS pernah melakukan ibadah Haji dan melakukan tawaf berkeliling ka`bah dengan 7 kali putaran.
Kemudian para malaikat menemuinya dan berkata:
“Semoga hajimu mabrur wahai Adam. Sesungguhnya kami telah melaksanakn ibdah haji di Baitullah ini sejak 2000 tahun sebelum kamu.
Adam Bertanya:
“Pada zaman dahulu apakah bacaan pada saat kalian tawaf ?”
Malaikat menjawab:
“Dahulu kami membaca : Subhanallah wal hamdu lillah wa la illaha illa Allah wallahu akbar”

Adam melanjutkan dan berkata : “ tambahkanlah dengan ucapan, “ Wa la Haula wa la quwwata illa billah”
Maka selanjutnya para malaikatpun menambahkan ucapan itu.
b. Tawaf Nabi Ibrahim :
Setelah menerima perintah membangun kembali Ka`bah, nabi Ibrahim As melaksanakan ibadah haji. Kemudian para malaikat menemuinya pada saat tawaf, seraya mengucapkan salam kepadanya, lalu Nabi Ibrahim pun bertanya kepada malaikat.
“ Dahulu apakah yang kalian baca saat tawaf ?”
Malaikat menjawab :
“Dahulu sebelum bapakmu Adam, kami membaca ; Subhanallah wal hamdu lillah wa la illaha illa Allah wallahu akbar” “ lalu Adam menyuruh kami menambahkan ; “ Wa la Haula wa la quwwata illa billah”

Selanjutnya Ibrahim berkata kepada malaikat :
“Tambahkanlah bacaan kalian dengan Al aliyyi al `adzim”.
Kemudian para malaikatpun melaksanakannya.
(sumber ; Al-Azraqy I/45).

Dengan demikian maka do`a tawaf adalah :
“Subhanallah wal hamdu lillah wa la illaha illa Allah wallahu akbar Wa la Haula wa la quwwata illa billah Al aliyyi al `adzim”.
c. Tawaf Rasulullah :
Ibnu umar RA menceritakan ;
“Dahulu, apabila Rasulullah melakukan tawaf, yang pertama (Tawaf Qudum,atau Tawaf selamat datang), beliau berlari-lari kecil pada putaran pertama dan berjalan biasa pada 4 putaran berikutnya. Beliau juga melakukan Sa`I (berlari kecil) pada Baithul Masil (perut lembah) diantar bukit Safa dan Marwah.
Suci dari hadas….!
Dalam menyelenggarakan tawaf, jemaah harus dalam keadaan wudhu dan suci dari hadas besar dan kecil. Bagi wanita yang sedang haid dan nifas tidak boleh melakukan kegiatan tawaf dan sa’i.

Syarat-syarat dan tata cara pelaksanaan tawaf adalah sebagai berikut :
1. Berniat akan melakukan tawaf
2. Mencari garis coklat sebagai tanda batas putaran tawaf yang letaknya searah dengan hajar aswad.
3. Hadapkan wajah ke Ka`bah sambil ber-Istilam (mengangkat tangan kanan kea rah Hajar Aswad) dan memberi syarat dengan mengecupnya sambil mengucapkan “Bismillahi Wallahu Akbar “.
4. Setelah itu mulailah berjalan putaran pertama sambil membaca do`a.
5. Sampai di ruku Yamani, mengusap rukun Yamani (bila memungkinkan atau cukup dengan mengangkat isyarat tangan saja) sambil mengucapkan “Bismillahi Wallahu Akbar.”
6. Setelah melewati Rukun Yamani sampai ke Hajar Aswad ditandai garis coklat, maka selesailah satu putaran.
7. Teruskan dengan putaran berikutnya, sampai selesai putarn ke 7 yang berakhir di Hajar aswad.

Setiap selesai melakukan tawaf, lanjutkan dengan ibadah berikutnya. Dan kalau bisa sesuai dengan urutannya.
Ketika rombonganku melakukan tawaf qudhum ini, rombonganku sangat dekat sekali dengan Ka`bah. Aku Ingin mendekat lebih dekat dengan Ka`bah, namun disini terdapat ribuan jema`ah yang juga melakukan tawaf, baik untuk melaksanakan tawaf qudhum maupun tawaf sunah.
Tentu kita tidak mau mengambil resiko dan harus menyadari, bahwa kemustahilan bagi kami untuk dapat menjamah ka`bah pada saat ini. Ribuah manusia mengelilingi kami, berhimpitan di lokasi yang utama yang ada diseputar Ka’bah, yaitu : Hijr Ismail, rukun Yamani, Hajar Aswad.
Aku dan suami mulai melakukan tawaf dengan berdiri menghadap Hajar Aswad. Seluruh badan miring, dengan mengangkat tangan kanan sambil melambai (beristilam) dan membaca : Bismillahi Allahu Akbar.
Perhatian ………,
Jika kita mengalami batal wudhu, pada saat melaksanakan tawaf, seperti kentut, segeralah berhenti dari pelaksanaan tawaf. Segera bersucilah kembali atau bertayamum. Setelah itu ulangi putaran. Jika saat batal wudhu dan sisa tawaf dihentikan, maka putaran yang sudah dilakukan sebelum wudhu batal adalah syah dan dapat dimasukan hitungan.

Tahukah Anda, ketika aku menjalani tawaf Qudhum ini, pada putara ketiga tanpa kusadari aku mengeluarkan angin. Barangkali karena pengaruh angin malam, tiba-tiba ada hembusan angin yang tanpa sengaja keluar dari tubuhku.
Aku berseru ditengah tengah regu kami ; Ya... Tuhan.. Saya kentut tanpa sengaja nih... Bagaimana.. Pa, kataku pada suamiku. Ketika pemandu kami mendengar percakapanku itu, beliau menyuruh aku dengan ditemani suami pergi berwudhu.
Kami berdua bingung, dimana tempat wudhunya. Bukankah Masjidil Haram ini luar biasa besarnya. Pada pintu yang mana kami harus keluar ? Setelah berjalan tidak keluar mencari tempat berwudhu, secara tiba-tiba kami melihat deretan tangki air zamzam yang digunakan orang untuk berwudhu. Disinilah pada akhirnya aku bergabung dengan jamaah dari negara lain untuk berwudhu.

Setelah mengelilingi 7 putaran disertai do`a tawaf atau zikir pada setiap putaran, maka kami melakukan sholat sunah dibelakang Makam Nabi Ibrahim. Dalam keadaan terjepit diantara derasnya putaran manusia yang melakukan tawaf, kami mengupayakan untuk melakukan sholat sunnah dibelakang Makam Nabi Ibrahim ini. Walaupun ketika masih di tanah air, kami telah diingatkan bahwa seluruh pelataran Ka’bah adalah tempat yang baik untuk berdoa. Namun mengingat ini adalah tawaf pertama yang kami lakukan, maka kami berupaya pada saat melaksanakan tawaf selamat datang ini, kami melakukan sholat Sunnah dibelakang Makam Nabi Ibrahim.
Suamiku – ditanah suci Mekkah ini aku memanggilnya Abi - berusaha membentengi diriku ketika aku melaksanakan sholat sunnah itu.

Setelah sholat sunnah, Aku berdoa pada Allah, bahwa sesungguhnya hanya Allah lah yang mengetahui apa yang menjadi hajadku yang tersembunyi dan amal perbuatanku .
„Ya Allah, ampunilah dosaku dan jangan biarkan ditempat ini aku masih dalam keadaan berdosa. Ampunilah aku ya Allah……………………
Apakah maqam Ibrahim ? Makam ibrahim adalah batu yang dibawa Ismail sebagai tempat berpijak Nabi Ibrahim, yang digunakan untuk berdiri, ketika Nabi Ibrahim membangun Ka`bah ditanganinya sendiri.
Keutamaan Maqam Ibrahim antara lain :
- sebagai tempat sholat sebagaimana yang terdapat pada Q,S.Al.Baqarah 2;25
- Maqam Ibrahim adalah batu-batuan yang berasal dari sorga, seperti halnya Hajar Aswad. Seandainya Allah tidak melenyapkan cahaya keduanya, maka niscaya cahayanyaitu mampu menerangi wilayah timur dan barat.
- Sebagai tempat dikabulkannya apabila kita berdoa.

Ketika selesai berdoa dan melaksanakan sholat sunah di Maqam Ibrahim ini, maka kita disunahkan pula untuk meminum air zam-zam.
Saat ini, diseputar pelataran Ka`bah, banyak sekali kran air zamzam, yang memudahkan para jemaah untuk meminum air zamzam itu. Meminum air zamzam termasuk perbuatan sunah.

Doa yang diajarkan Nabi SAW, ketika kita meminum air zamzam :
Allahumma inni as a luka I`imaaan Naa fi aa`n wa rizqaan wa si aa`n wa syifa an min kulli daa in, saqomin birahmatika yaa arhammarrahimiin.

Setelah kita usai melakukan Tawaf, Sebetulnya kita dapat pula melakukan ibadah sunah lainnya, yaitu melaksanakan sholat mutlak di Hijr Ismail. Namun mengingat kepadatan yang luar biasa, maka aku dan suami tidak mungkin mencapai bagian dari Ka`bah ini. Massa jemaah begitu banyak, dan Anda akan dihimpit oleh beribu jemaah yang ingin melakukan shalat Sunnah di areal Hijr Ismail ini.

SA’I
Ibadah sa`I merupakan salah satu rukun haji dan umrah, yang dilakukan dengan berjalan kaki (berlari kecil) bolak – balik 7 kali dari bukit safa kebukit marwah dan sebaliknya. kedua bukit yang satu sama lainnya berjarak sekiatar 405 meter.
ketika melintasi Bathnul Waadi yaitu kawasan yang terletak diantara bukit Safa dan Marwah (saat ini ditandai dengan lampu neon hijau), para jamaah pria disunatkan untuk berlari-lari kecil, sedangkan para jemaah wanita berjalan cepat.
Ibadah haji boleh dilakukan dalam keadaan tidak berwudhu dan oleh wanita yang datang haid atau nifas.
Ketika hendak mendaki bukit Safa sebelum sa`I dimulai, aku dan suami mengikuti tata cara melaksanakan Sai. Kami melihat para jemaah berdoa menghadap kiblat. Banyak para jemaah mengangkat tangan seakan – akan bertakbir. Disini aku mengikuti tata cara orang melakukan sa`I, dengan mengangkat tangan seolah bertakbir. Ternyata dalam buku panduan yang diterbitkan oleh Badan Urusan Wakaf dan Haji Pemerintah Arab Saudi, mengangkat tangan seolah bertakbir, ini merupakan suatu kekeliruan. Karena sebenarnya kita cukup mengangkat tangan untuk berdoa dengan menghadap kiblat.

Aku dan Suami menjadi bingung. Mau bertanya dengan siapa ? Bukankah kami sudah terpisah dari regu/rombongan kami. Kami melihat, begitu banyak cara dan ragam manusia dalam melakukan prosesi ibadah Sa’I di bukit Safa ini. Saling berbeda dalam melaksanakan Sa’I ini. Masih dalam keadaan bingung, akhirnya aku dan suami mengikuti sa`I antara bukit Safa hingga Marwah itu, dengan membaca doa yang yang tertulis dalam buku doa dan dzikir ibadah haji terbitan Departemen Agama RI.


Makna Ibadah Sa’I

Kata sa`I artinya usaha, yaitu berusaha dalam hidup baik pribadi maupun masyarakat.
Ketika melaksanakan sa`I ini, mataku sudah terasa mengantuk. Waktu sudah menunjukan jam 23.30. Kepadatan di pelataran sa`i tidak berkurang. Badan terasa lelah, karena sejak sholat subuh di Mesjid Ijabah – di Madinah, aku belum sepenuhnya tidur atau istirahat.

Sesaat kemudian aku sadar, bahwa perjalanan dari bukit Safa ke Marwah ini, merupakan napak tilas dari Siti Hajar, untuk mencari air minum bagi dirinya dan putranya Ismail. Kita harus menyadari bahwa pelaksanaan Sai harus dilakukan secara bersungguh-sungguh. Apalagi bila kita langsung membaca arti doa-doa yang tercantum dalam buku doa dzikir ibadah Haji terbitan Departemen Agama, maka semakin ringanlah langkah kita untuk menghayati hikmah Sai ini.

Jarak bukit Safa hingga Marwah adalah 405 m, berarti malam ini kami telah menempuh perjalanan sejauh k.l 7 x 405 m = 2,35 km ditambah berjalan mengelilingi Ka`bah ketika tawaf sebelum kita melakukan Sa’i.

TAHALLUL
Menurut bahasa berarti ‘menjadi boleh’ atau ‘diperbolehkan’. Dengan demikian Tahallul adalah diperbolehkan atau dibebaskannya seseorang dari larangan atau pantangan ihram. Pembebasan tersebut ditandai dengan tahallul yaitu dengan mencukur atau memotong rambut sedikitnya 3 helai rambut.
Semua Mashab berpendapat bahwa Tahallul merupan wajib haji. Hanya mazhab Syafi,iyah menganggapnya sebagai rukun haji, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Fath ayat 27 yang artinya :,
“Sesungguhnya Allah akan membuktikan pada RasulNya bahwa mimpi RasulNya itu akan menjadi kenyataan. Yaitu Engkau dengan penduduk Mekah lainnya akan memasuki kota Mekkah, Insya Allah aman, bebas, dari rasa takut terhadap kaum musyrik, dengan mencukur rata kepalamu, sedang yang lain mengguntingnya saja. Tuhan mengetahui apa yang tidak kamu ketahui itu. Dibalik ‘Yang tidak kamu ketahui itu’ Tuhan memberi kemenangan lebih dahulu kepadamu pada waktu dekat”.

Tepat pada pukul 01.15, kami berdua selesai melaksakan Sa’i dan disudahi melaksanakan Tahallul. Kami melaksanakan tahallul dengan jalan saling menggunting rambut satu sama lain. Setelah itu, kamipun kembali kepenginapan.

“Tawaf Sunnah” - Tanggal 29 desember 2005 :

Hari kedua di kota Mekkah pada waktu Ba`da Ashar aku dan suami serta regu kami melaksanakan tawaf Sunah. Tawaf sunah adalah sebagai pengganti solat tahiyatul Masjid.
Karena suasana padat kami mencoba melakukan tawaf pada lantai 2 Masjidil Haraam.

Perlu aku ceritakan disini, bahwa diameter ka`bah 150 m, Jiki kita berjalan mengelilingi pelataran Ka’bah lantai 2 ini, berarti kami telah berjalan dengan rumus keliling lingkaran, yaitu 22/7 x 150 m = 471,4 m. Apabila berjalan 7 kali putaran, berarti kita akan menempuh perjalanan sejauh jarak tempuh k.l 3.300 m2.
Demikianlah jarak yang cukup panjang ini dalam lingkup ibadah sunnah, kami tak akan pernah melupakannya dan tidak mengurangi tekad kami melaksanakan ibadah ini. Ditengah kami bertawaf ini, masuklah azan sholat magrib. Tawafpun kami hentikan sejenak ketika datang sholat magrib itu. Kami bergabung dengan anggota jemaah lainnya.

Setelah usai melaksanakan sholat magrib kami meneruskan sisa putaran tawaf tadi. “Subhanallah walhamdulillah wala ilaha ullallah wallahu akbar, wala haula wala quwwata illah billah,Al-alliyyi Al-Adzim.
Kita dapat melantunkan dzikir ini menikuti irama yang kita sukai.

Ibnu Abas RA bercerita, bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya pada setiap hari, Allah Aza wa Jalla menurunkan 120 rahmat kepada orang yang mengunjungi Baitullah ini.

- Enam puluh untuk orang – orang yang bertawaf,
- Empat puluh untuk orang yang sholat dan,
- Dua puluh untuk orang memandang Baitullah. Subhanallah………


Hari Ketiga di Kota Makkah - Jum`at 30 Desember 2005 :

Dengan hati sedih aku tidak dapat melaksanakan tawaf pada hari ini di karenakan kodratku sebagai seorang wanita menghalangiku ke Masjidil Haram.
Sekalian melaksanakan sholat Jum’at Abi berangkat ke Mesjid sendirian.
Pada saat ia berada di Mesjid, Abi menyampaikan pesan singkat – sms – pada ku, bahwa ia berhasil mencium hajar aswad. Alhamdulillah …………seruku terharu.
Berita bahagia ini, segera aku teruskan kepada anak-anakku Ulil Amri, Aulia, Iman dan Ilma. Tujuannya, agar mereka juga gembira mengetahui kabar kami di tanah suci ini. Selain itu, bukankah iringan doa yang dilakukan anak-anakku di Tanah Air, pada setiap magrib dengan cara sholat berjamaah, membaca AlQur’an - Yasin - di Indonesia, sangat membantu kami dalam penyempurnaan ibadah yang kami lakukan secara khusuk.

Bagi para jemaah Haji, keinginan untuk mencium hajar aswad merupakan ibadah sunnah yang harus diperjuangkan secara serius dan direncakan. Tidak ada kesempatan yang datang begitu saja, atau karena kebetulan. Karena ada sekian juta jemaan dari seluruh dunia berupaya untuk mencium Hajar Aswad ini .

Belakangan diketahui bahwa mencium hajar aswad yang dilakukan Abi itu, belumlah sempurna. Karena beliau hanya sempat mencium lingkaran Hajar Aswad belaka, karena saking padatnya perebutan hajar aswad ini.

Mengapa orang harus berebut Hajar Aswad ? Padahal sahabat nabi “ Umar Bin Khatab “ , menyatakan :
“Sesungguhnya aku mengetahui engkau hanyalah batu. Kamu tidak mampu memberi mamfaat bagi diriku. Namun jika sekiranya aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu, niscaya aku tak akan pernah menciummu. “(HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud).

Ternyata Rasulullah telah memberikan tuntunan yang bijaksana terhadap Hajar Aswad ini. Bagi orang orang yang bertawaf, jika sekiranya tidak dapat mencium hajar aswad, maka cukuplah baginya menyentuhnya dengan tangan. Kemudian mencium tangan yang telah menyentuh hajar aswar itu.
Seandainya tidak mungkin menyentuh dengan tangan, cukuplah beri isyarat dari jauh dengan tangan kemudian menciumnya (sikap ini disebut istilam).
Dengan demikian mencium Hajar Aswad ini tidak lain - semata-mata sikap kepatuhan seorang muslim mengikuti Sunnah Rasulnya.

Para jamaah meyakini tentang kemulian Hajar Aswad, sebagaimana hadis yang diriwayatkan Al Khatib dan Ibnu Asyakir :
“Hajar aswad adalah tangan kanan Allah Azza wajalla dimuka bumi. Allah berjabat tangan dengan makhluknya,seperti seseorang berjabat tangan dengan saudaranya.”

Aku tidak mengerti kesahihan hadis ini. Yang jelas sedemikian banyak yang berupaya untuk mencium hajar aswad itu.

Teknologi selular sangat maju. Komunikasi antar keluarga di tanah air dengan kami berjalan lancar. Aku dan suami sering, mengirimkan pesan singkat kepada anak-anakku - Ulil Amri dan Iman. Ternyata pesan-pesan singkat yang kami kirimkan kepadanya dikawatirkan mereka, bahwa Mama dan Papanya tidak khusuk dalam menunaikan ibadahnya. Padahal sesugguhnya, kami memiliki begitu banyak waktu senggang diantara melakukan ibadah sebanyak-banyaknya dengan tugas-tugas rutin lainnya.
Aku dan suami adalah jemaah haji mandiri non KBIH. Memandu diri sendiri melalui pengelompokan regu beregu. Kemudian dikelompokkan lagi dalam rombongan. Rombongan ini menyatu dalam kelompok terbang. Dalam satu kelompok terbang ini, banyak para jemaah melakukan tugas harian di kota Mekkah ini, seperti mencuci, memasak bagi yang membawa alat. Waktu yang longgar itu kami melakukan kegiatan non ibadah adalah sepulang sholat shubuh hingga datangnya waktu zhuhur. Begitu pula antara waktu dzuhur sampai Ashar.
Aku sedikit tersenyum kecut juga, ketika kaum Ibu jemaah satu kloter, masih tidak merubah menu makanannya, yaitu sayur asem dan ikan asin. Mereka begitu sibuk memasak, sehingga terkadang mengabaikan kesempatan membaca alqur’an. Barangkali ada alasan tertentu yang menyebabkan mereka memasak sendiri ketimbang membeli masakan Indonesia yang cukup banyak dijual disepanjang jalan-jalan.

HARI KE EMPAT DI KOTA MEKKAH Sabtu, 31 Desember 2005

Para jemaah sebanyak-banyaknya berusaha melakukan sholat di Mesjidil Haram, karena pahala yang diperoleh setara dengan 1 x waktu sholat di Mesjidil Haram nilainya 100 ribu kali sholat di Bahrul Ulum Puspiptek atau Mesjid di manapun.
Teman-teman sekamarku dengan sangat giat, melakukan sholat di Masjidil Haram, Pada jam 2 malam kami bersiap-siap untuk berangkat ke Masjidil Haram. Bagi diriku yang tidak dapat sholat cukuplah aku menulis catatan perjalanan serta berupaya mencari sumber, dalil serta hikmah yang terkandung dalam perjalanan rohani ini.
Demikian pula semangat para jemaah dari berbagai Negara sangat kental. Beberapa kelompok jemaah manca negara datang berbaris dari berbagai penjuru menuju satu titik tujuan “ Masjidil Haram. Rombongan itu “Mirip massa yang melakukan aksi damai “. Ada yang membawa poster atau papan nama Negaranya serta memakai seragam warna seragam bimbingan.
Rombongan paling dinamis yaitu kelompok jemaah dari Turki, Mesir, Iran, dan Irak, selain postur tubuhnya besar – besar barisannya rapat dan kompak. Semua itu dengan semangat ukhuwwah, sesama umat, seiman Islam sedunia, bersatu dengan tujuan satu; beribadah kepada Allah SWT.

Pada tahun 2006 ini, wukuf di Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Januari 2006. Pada 9 hari menjelang wukuf terjadi penggantian tahun (tahun baru). Sebagian besar jemaah haji Indonesia di tanah suci tidak menyadari bahwa pada saat itu masyarakat Indonesia sedang merayakan pesta akhir tahun.
Pada waktu ini, Di Mekkah kami menikmati hiruk pikuk para jemaah haji dari seluruh dunia - pulang pergi dari Mesjidil Haram ke tempat Penginapan masing-masing.
Pada malam itu, mereka menunaikan sholat isya atau sebaliknya. Ada yang akan bermabit dan i`tikaf di Masjidil Haram.

Sementara itu, ada pula jemaah yang sedang asyik berbelanja, entah dipertokoan sepanjang jalan atau di tempat pedagang kaki lima yang menjajakan souvenir berbagai macam rupa.

Selama di kota Mekkah, Suami memberiku “kaca mata kuda” pada diriku. Apakah itu ? Artinya pandangan mataku harus menatap kedepan saja. Tidak boleh melirik kekanan atau kekiri. Padahal begitu banyak barang dagangan yang dijajakan. Mulai dari sepanjang jalan Masyjidil Haram sampai menuju kerumah penginapan kami.
“Nanti ……, katanya.
“Apabila sudah selesai pelaksanaan ibdah Haji (maksudnya ; wukuf, melempar jumroh, mabit)…… boleh sepuasnya menikmati dunia belanja “, demikian arahannya kepada diriku. Beliau kawatir, dunia belanja para kaum perempuan, akan mengganggu kekhusukan menjalankan ibadah haji kami pada hari wukuf di Arafah yang tinggal beberapa hari lagi.


Hari kelima di Kota Makkah : WISATA ZIARAH

Minggu, 1 Januari 2006


Pada hari ini, kami berkesempatan melakukan wisata yaitu Jabal Tsur, Jabal Nur, Arafah/Jabal Rahman, Muzdalifah, Mina, serta mengunjungi tempat pemotongan kambing/unta guna memenuhi kewajiban membayar dam.
Jabal Nur atau Gua Hira adalah sebuah bukit yang tidak jauh dari kota Makkah. Tempat ini merupakan tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama. Di Jabal Nur terdapat Gua yang cukup duduk 4 orang.
Gua ini dikenal dengan “Gua Hira” disinilah Nabi menerima wahyu yang pertama yaitu surat Al alaq.

Mengingat waktu yang terbatas, maka rombongan kami hanya melewati saja lokasi ini untuk langsung menuju Padang Arafah.
Padang Arafah merupakan gurun pasir yang tandus, gersang tanpa satupun tanaman yang tumbuh disana. Mengapa Arafah digunakan sebagai lahan pertobatan dan dzikir manusia?
Sesungguhnya, Arafah ini merupakan simulasi padang Mahsyar. Kering dan panas.
Manusia yang berada di Padang Arafah itu, menggunakan pakaian ihram, yaitu – bagi pria menggunakan 2 helai kain tidak berjahit. Jika kita amati, Bukankah pemakaian pakaian ihram ini, merupakan simulasi bangkitnya manusia dari alam barzah.
“Subhanallah ...................., betapa hebatnya Rasul menuntun umatnya dalam perjalanan memenuhi panggilan Allah SWT ini. Arafah memang bumi yang paling tepat untuk mendekatkan diri kepadaNya.

Jabal Rahmah, terkenal sebagai tempat pertemuan Adam dan Hawa, setelah mereka berpisah lama ketika mereka keluar dari sorga.
Arafah saat ini telah ditanami pohon akasia. Konon kabarnya pohon ini sengaja didatangkan dari Indonesia untuk memberi kesejukan bagi jemaah yang wukuf di sana.
Pemandu kami cukup jeli memamfaatkan momentum pertemuan Adam dan Hawa di lokasi Jabal Rahmah ini, untuk menggali kembali kasih saying pasangan suami istri yang tengah berkunjung kesana.
“Bapak2 dan ibu2.., silahkan menaiki Jabal Rahmah ini. “Insya Allah …… Allah akan mempereratkan tali kasih Bapak/ibu pasangan suami istri yang berbahagia…, demikian katanya.
Aku dan suami, mencoba mengikuti anjuran pemandu kami. Kami berdua mencoba menaiki bukit berbatu dan terjal di Jabal Rahmah itu. Ternyata tidak mudah bagi diriku menaiki bukit yang terjal itu. Kakiku yang invalid membuatku sadar, bahwa kami tidak mungkin mencapai tugu Jabal Rahmah tersebut.
Demi mencapai kepuasan bathin, maka kami gunakan kesempatan untuk berpose berdua dilokasi ini.

Lokasi pertemuan adam dan hawa itu, ditandai dengan tugu putih dan berada di puncak bukit.
“Wah …… berbahagialah bagi pasangan suami istri yang berada di sini, kata teman-temanku yang kebetulan tidak didampingi pasangannya. Alhamdulillah……………
Jabr Tsur adalah tempat Nabi Muhammad, menyembunyikan diri dari kejaran kaum kafir Quraisy.

Dari posisi kami berdiri, terlihat dari kejauhan titik-titik putih meng-ular sampai ke puncak bukit. Titik –titik itu adalah jemaah yang mencoba mendaki bukit dengan perjalanan pendakian mencapai 2 jam.


Hari ketujuh di Kota Makkah - 3 Januari 2006 :

Pada jam 2.00 dini hari waktu Makkah, kami selalu bangun dan bersiapdiri untuk pergi ke masjidil Haram. Selain ingin mendapatkan 120 rahmat, maka jika kita sholat berdoa di hadapan Ka`bah khususnya di depan Multazam terasa sangat khusuk sekali.

Multazam menurut bahasa artinya pasti. Multazam berada diantara Hajar Aswad dan pintu Ka`bah.
Rasulullah bersabda :
“Multazam adalah tempat berdoa yang mustajab (terkabul), tidak seorangpun hamba Allah yang berdoa ditempat ini tanpa terkabul permintaanya.

Ketika kita menyebut Maha Suci Allah. Puji syukur. Tiada Tuhan selain Allah... Allahu Akbar, tidak terasa air mata menetes bercucuran tiada henti-hentinyanya.
Kita teringat akan segala kelalaian, kesengajaan kita dalam melakukan pelanggarannya/laranganNya. Saat inilah kita mohon ampunannya. Selain itu betapa bersyukurnya kita, bahwa kita bisa datang memenuhi panggilanNya.
Karena itulah, aku memohon kepada Allah, agar Allah akan mengampuni dosa-dosaku.

Doa yang pernah kulafazkan di depan multazal ini antara lain :
“Ya Allah … limpahkanlah rizki pada kakak-kakakku/adik-adik/saudara/ kerabat dan handai tolan kami, yang tidak dapat aku sebutkan satu-persatu namanya. Engkaulah Maha mengetahuinya, sehingga mereka suatu ketika juga dapat duduk dihadapan Baitullah ini.
“Aku mohon perlindungan terhadap keluarga dan anak-anakku, saudara, kerabat, dan handai tolan yang secara ikhlas, telah mendoakan keberangkatan kami ketanah suci ini ya Allah.

Tidak terasa aku menangis berurai air mata. Aku mengalami kesulitan untuk menahannya. Ingusku meleleh tidak karuan. Ketika itu keadaan darurat sekali. Ya Tuhan...., tiba-tiba saja seorang wanita Iran yang duduk disampingku, memberikan beberapa helai tissue untuk sekedar menghapus air mata dan ingusku itu. Begitu pula selama berdoa ini, aku disuguhkannya pula segelas air zamzam kepadaku. Rasanya tidak enak hati menolak ketulusan hati perempuan Inya. Aku terima segelas air itu dan aku minum sampai habis. Padahal sebelumnya ketika dari penginapan,aku telah minum segelas susu dn begitu juga ketika aku masuk mesjid aku telah meminum segelas air zamzam. Hari baru menunjukan pukul 04.00, buang air kecil sudah tak tertahankan. Dibarisan shaf depan, aku melihat Abi duduk dengan khusuk. Tidak mungkin aku pamit kepadanya dan tidak mungkin aku minta pertolongannya untuk mengantarkanku ke toilet. Lagi pula dimanakah women toilet itu ? Terus terang aku bingung dan sudah tidak konsen terhadap al quran yang saat itu sedang aku baca, sambil menunggu waktu Subuh tina. Didera kondisi tubuh seperti ini, sungguh sangat tersiksa.
Alhamdulillah ..., hingga waktu shubuh tiba pada jam 05.30, aku masih bertahan. Tubuh menggigil kedinginan. Ternyata kantung kemih masih berfungsi baik sehingga aku mampu menahan keinginan hajat kecil ini. Ketika sholat shubuh usai, terburu-buru aku memanggil Abi dan segera mengajaknya pulang ke penginapan. Selama perjalan dari Masjidil Haram sampai ke penginapan saja, yang jaraknya 2 km, kami berjalan terbirit-birit.

Aku sadar, dari peristiwa ini aku teringat suatu kejadiaan. Aku pernah mencandai seorang bapak yang serombongan dengan kami. Si Bapak itu mengalami keinginan buang hajat kecil, ketika kami menaiki bus dari bandara Madinah ke penginapan. Kawatir bus kami tertinggal rombongan bus lainnya, maka aku mencandai si bapak tersebut agar mengikat jempolnya dengan karet gelang, agar rasa keinginan untuk buang hajad kecil itu hilang.
“Wah …… jangan-jangan ini pembalasan bagi diriku … ucapku dalam hati. Astagfirullahal adzim……

HARI KE DELAPAN DIKOTA MAKKAH 4 Januari/dzulhijah 2006

Setiap malam dini hari kami bangun untuk melakukan sholat tahajut ke Masjidil Haram.
Sesampainya di Mesjid kami melakukan Tawaf sunnah. Tawaf sunnah adalah sebagai pengganti tahiyatul Masjid.
Hari ini suasana mesjid terasa amat sesak. Tinggal berapa hari lagi waktu wukuf di Arafah tiba. Para jemaah mulai berdatangan dari seantero Negara di Timur Tengah dan Afrika utara. Terasa benar suasana kebesaran islam. Mekkah bagaikan pertemuan mu`tamar bangsa-bangsa yang luar biasa untuk bertahmid, bertasbih, bertakbir.
“Subhanallah… walhamdulillah…… wala ilaha ullallah…… wallahu akbar,……..lahaula wala quwwata illah billah,Al-alliyyi Al-Adzim.
Memuji Allah yang sebagaimana yang dianjurkan malaikat dan RasulullahSAW, sangat sederhana.

Tiada bacaan lainyang harus kita lafazkan. Akan tetapi umat Nabi Muhammad yang berkembang menjadi berbagai macam mahzab dan aliran, mengucapkan kalimah-kalimah Ilahi sesuai dengan mahzab mereka. Lantunan tasbih, tahmid dan takbir itu, bagaikan kita berada disarang lebah. Kita akan mendengar dengungan ayat-ayat suci yang mengagungkan nama Allah.

Betapa kecilnya kita bila berada ditengah pusaran tawaf ini. Badan kita bagaikan berada ditengah genangan air deras dengan batu-batu besar mengapit diri ini. Terseok-seok,……………..terdorong-dorong …………..dan terjepit. Aku mencoba berjinjit untuk mengimbangi tinggi saudara seiman islam kita. Bila makin dekat kita dengan Ka`bah, maka pusaran manusia semakin deras bagaikan riak gelombang manusia yang menghantan diri ini. Abi – suamiku, harus kuat membentengi diriku dengan kekuatan tenaganya Tenaga Abi harus super ekstra untuk mempertahankan dirinya dan juga untuk melindungi istrinya.
Ego manusia dalam pusaran ini semakin tambah besar. Benar-benar memperdaya yang manusia Indonesia yang kecil-kecil tubuhnya. Bagi mereka yang berpostur besar, maka kita yang berbadan kecil ini bagaikan kerikil-kerikil diantara batu-batu besar dari suatu aliran air yang deras.
Begitulah kondisi yang kita hadapi pada saat kita melakukan tawaf pada MIN H dan PLUS H. Bagi saudara kita seiman islam itu, ketika berjalan diantara kita, sangat mudah sekali ia merambah badan kita. Inilah jihad bagi jemaah haji Indonesia. Jihad melawan nafsu “jidal” karena kita sama sekali tidak boleh mencederai jemaah yang lain. Jika kita tidak kokoh berjalan dalam pelaksanaan tawaf ini, maka kita bias tersungkur dalam tawaf itu. Akibatnya mautlah tantangannya.

Tak kalah dengan suara. Saudara seiman islam itu ada yang menganggap, bahwa jika suara semakin kencang dalam bertasbih, tahmid, takbir kepada Allah SWT, seakan suara merekalah yang akan didengar. Hal yang perlu diingat oleh calon jemaah haji adalah adanya beberapa kekeliruan yang semestinya tidak boleh dilakukan saat bertwaf, antara lain :
- Melakukan ramal (lari-lari kecil) hampir semua putaran, padahal cukup dilakukan pada 3 putaran saja. Inipun tidak perlu memaksakan diri sehingga akan mencederai orang lain.
- Mengeraskan suara pada waktu tawaf, dapat mengganggu orang lain yang sedang bertawaf
- Berdesak-desakan untuk sholat didekat makam Ibrahim As.h

Perbuatan semua itu adalah sunah hukumnya. Janganlah kita melakukan kekeliruan ini yang menjadikan orang teraniaya.

Bila kekeliruan ini tetap terjadi, maka keinginan manusia untuk megharap ridho Allah akan berbenturan dengan sikap dan prilaku yang tidak sesuai menurut ketentuan Rasul. Astagfirullah…….

1 - Catatan perjalananku menuju kesempurnaan ISLAM :Persiapan – Pemberangkatan – Ziarah Madinah

Walimatul Safar Bi Haj : 4 Desember 2005
Perjalanan ibadah haji adalah perjalanan rohari dalam memenuhi panggilanNya untuk menunaikan rukun islamyang kelima bagi yang mampu. Mampu secara bathin karena adanya keinginan dan kemauan untuk beribadah untuk mengharap ridho Nya sertamemohon ampun kepada Nya, sehingga seseorang akan menjadi hamba yang sebenar-benarnya muslim setelah rukun islam yang ke lima ini. Keharuan semakin terasa menyelimuti hati ini ketika langkah yang kami lakukan adalah terlebih dahulu meminta maaf kepada saudara, kerabat, handai toulan / tetangga agar mereka memaafkan kita serta berdoa agar kita menjadi haji yang mabrur. Bagiku menggapai haji yang mabrur ini terasa berat, sementara hampir semua orang mendoakan kita, agar kita memperoleh haji yang “mabrur”.

Menghimpun saudara, kerabat dan handai toulan merupakan langkah yang efektif bagi para calon jemaah haji – tanpa maksud berpesta ria untuk melepas keberangkatannya, tanpa ada maksud bermewah – mewah, namun semata adalah demi kesempurnaan acara dan kesyahduan.

Demikianlah pada acara Walimatursafar yang kami selenggarakan secara sederhana – tak terkira rasa gembiraku. Begitu besar perhatian saudara/kerabat/handai taulan untuk meluangkan waktunya menghadiri pertemuan ini. Kami mengundang seorang penceramah. Bapak “Hasyim Syamsudin” selaku penceramah pada acara walimatussafar, memnyampaikan pesan – pesan kepada kami serta para hadirin, bagaimana seorang calon jemaah haji, harus bersikap dalam menunaikan ibadah haji serta dapat memetik hikmah ibadah haji.

Ketika sampailah pada acara pembacaan doa yang dipimpin oleh “uztad Sobari dari “Pesantren Nurul Ihsan “, aku menangis terisak betapa ratib “Hadad” yang dibaca hadirin bersama para santri secara serempak, menjadikan diri ini penuh dosa. Akan mampukah aku menjadi manusia yang diharapkan menjadi haji mabrur? Sungguh berat predikat haji mabrur ini bukan ,?

“Ya Allah iringi aku dalam perjalanan ini. Hanya kepada engkau aku memohon perlindungan dan hanya Engkau yang menemaniku”.

Masuk Asrama Haji :

Dengan diantar oleh keluarga besar kami, serta disertai perasaan haru dan bahagia, aku dan suami, meninggalkan rumah pada ba`da dzhuhur.

Pagi hari sebelum keberangkatan, sebelum kami meninggalkan rumah, kami memanggil anak – anak dan menasehati mereka, agar mereka selama ditinggal pergi Papa dan Mamanya, bersikap dan berprilaku yang baik.

Kami berdua ; aku dan suamiku – Uda Oyon , sebelum berangkat terlebih dahulu melakukan sholat “Safar” serta saling bermaaf – maafan diantara kami berdua. Agar kami berdua tidak mengalami hal-hal yang dapat merintangi perjalanan kami.

Hendaknya diantara kami berdua akan menjadi teman perjalanan menyenangkan. Insya Allah……Amin ………………………………………

Kepada keluarga besarku yang hadir, suamiku menitipkan anak-anak kami : Ulil Amri, Aulia Khair, Imanul Ilmi, dan Amrina Khairi Ilma. Kami menyampaikan permohonan maaf serta memohon doa agar keberangkatan kami ini dapat dimudahkan oleh Allah SWT.

Ulil Amri anak kami yang pertama mengumandangkan azan melepas keberangkatan kami. Kakak ipar kami ‘Mulyono Iskandar”, membaca doa pelepasan keberangkatan kami.

Tempat pelepasan keberangkatan jemaah haji, dilakukan di sebuah lapangan sepak bola yang berlokasi didesa “Cilenggang” , Serpong, Tangerang. Para jemaah Haji dilepas secara resmi oleh kepala KUA – Serpong. Suasana pengantar haji, cukup padat. Masing-masing keluarga besar para jemaah, menghantar anggota keluarganya dari desa ini. Disini aku menyadari bahwa perjalanan haji memang lain. Ini adalah perjalanan memenuhi panggilan Allah SWT, sehingga berbondong-bondonglah anggota kerabat melepas keberangkatan para calon haji itu.

Uraian air mata Amrina Khairi Ilma” putri kami yang terkecil (10 tahun), cukup mengusik hati ini. Dari atas bus aku berusaha menenangkannya. Aku merasakan perpisahan selama 40 hari ini memang terasa lama. Apalagi dia belum pernah ditinggal selama ini.Akhirnya perlahan bus kami, meninggalkan lapangan yang sempit ini disertai lambaian para kerabat calon jemaah haji lainnya. Hujan deras mengiringi keberang katan kami. Hati ini diliputi rasa haru yang mendalam, ketika bus yang kami tumpangi merengsek secara perlahan dan akan mengantarkan kami ke asrama haji di Pondok Gede - Jakarta.

Dalam perjalan menuju Asrama Haji Pondok Gede, kami rombongan jemaah haji dituntun membaca doa menaiki kendaraan serta doa perjalan yang dipimpim oleh ketua regu kami, yaitu Syafrul dan Suroso.

Calon jemaah diinapkan semalam, untuk mempermudah pengurusan exitpermit, paspor dan buku kesehatan jemaah termasuk pemberian living cost sebesar 1500 Riyal.

Ketika kami menginap semalam di Asrama Haji Pondok Gede, kami bertekat bahwa perjalan ini harus dapat dinikmati, sehingga apapun yang terjadi inilah rahmat bagi kita. Ada guyon diantara regu kami ketika kami menikmati hidangan makan malam yang disajikan diasrama ini.

“Sayurnya asem ………saja enak, apalagi sambal goreng hatinya………..(karena memang makanan yang disuguhkan kepada kami sangat enak sekali).


KEBERANGKATAN KEMADINAH :Tanggal 19 Desember 2005

Kami merupakan gelombang I, kelompok terbang ke 27, yang diberangkatkan menuju Madinah melalui Embarkasi Jakarta. Jumlah jemaah berasal dari kabupaten Tangerang berjumlah 455 orang. Kami diberangkatkan dari Pondok Gede jam 09.00. Semua jemaah yang akan berangkat diharuskan melakukan sholat safar. Demikianlah sebelum berangkat dari Asrama Haji Pondok Gede, terlebih dahulu aku melakukan sholat safar agar diberikan kemudahan dalam perjalanan menuju tanah Madinah. Begitu pula sesampai di Bandara Cengkareng – sambil menunggu keberangkatan dari Terminal Haji – Badara Sutta, kami melakukan sholat jamak Taqdim – Qoshor masing-masing untuk sholat dzuhur dan asyar 2 – 2 rakaat.

Pesawat yang akan membawa rombongan kami, diberangkatkan pada jam 14.15 wib, sesuai jadwal yang direncanakan. Perjalanan yang kami rasakan, teramat menyenangkan. Hal ini tercermin dari muka yang ceria para jemaah yang ada di kelompok pesawat terbang itu. Kami seakan melupakan rumah dan anak – anak yang ditinggalkan.

Perjalanan menuju Madinah memerlukan waktu 10 jam. Makanan yang dihidangkan sangat berselera. Alhamdulilah kami dilayani seperti tamu eksekutif oleh para pramugari Garuda. Pelayanan pramugari ini, sangat berbeda dengan pramugari Garuda lainnya, yang cenderung bermuka tidak ramah.

Dipesawat aku lebih banyak tidur, mungkin karena pengaruh obat batuk China, yang aku minum sebelum berangkat, sehingga perjalanan ini terasa amat singkat. Beberapa jemaah, banyak yang membaca al quran untuk mengisi kekosongan waktu di pesawat. Akupun membaca al quran, namun ternyata kantuk sangat menguasai mata ini. Mudahan bukan makhluk penggoda yang bernama Syaitan itu ada dipelupuk mata ini.

Memasuki wilayah Saudi Arabia, perjumpaan kami dengan orang-orang Arab adalah ketika pesawat transit di “Bandara Aini” – Abu Dabi, untuk mengisi bensin. Pesawat dibersihkan. Setelah itu, kemudian pesawat diterbangkan ke Madinah dan mendarat di Bandar “Amir Muhammad bin Abdul Aziz-Madinah, pada pukul 20.00 waktu setempat.

Ternyata kedatangan kami ini di kota Nabi, ini menurut perkiraan Daker (Daerah Kerja/Penanggung Jawab Jemaah Haji Indonesia), mengalami percepatan 6 jam dari jadwal kedatangan kloter kami. Ada perasaan mencekam ketika, tiap sebentar bus yang kami tumpangi berhenti dan berhenti – entah apa alasannya. Yang kami tahu adalah sopir berteriak-teriak tanpa kumengerti.

Seperti biasa pada sebuah perjalanan yang jauh, selalu saja ada yang kebelet pipis. Beberapa kaum ibu sudah tahan lagi menahan hajat kecilnya. Penumpang lain mulai menahan perasaan. Pada saat bus akan merengsek perlahan, seorang bapak-bapak berseru bahwa iapun ingin berhajat. Hemmm... sabar ya Allah. Bagaimana emosi seseorang harus dikendalikan ? akupun setengah bergurau kepada si bapak itu : “ pak ... ikat saja jempol tangannya dengan karet.., kataku. Dijamin Bapak hilang rasa kebeletnya... Seketika tanganku disikut suami.

“Huss.. jaga hati dan jaga mulut, katanya. Akhirnya dengan kesabaran penuh, para penumpang menunggu si bapak pergi menuju toilet yang bukan milik umum di tanah nabi itu – sebuah toliet – milik staff Bandara Mandinah. Secara perlahan berangkatlah bus mengantarkan rombongan kami menuju penginapan. Kami menempati penginapan yang sederhana berjarak 1 km dari Masjid Nabawi. Alhamdulillah ……………………………

HARI PERTAMA DI MADINAH (SHOLAT ARBAIN) - Tanggal 20 Desember 2005 :


Pada pukul 03.00 dinihari, regu kami bersegera melaksanakan sholat arbain yang pertama (waktu subuh). Udara Madinah yang dingin tidak terasa bagi kami.

Ketika itu, suasana mesjid belum terasa ramai. Kami masuk menuju pintu yang diperuntukkan bagi jemaah wanita. Kami sedikit tertegun gugup, ketika didepan pintu terdapat beberapa wanita yang berpakaian hitam-hitam dan bercadar. Dipintu Mesjid Nabawi yang disebut pintu Usman bin Affan no. 29 itu, kami benar-benar terperanjat, karena dihadang oleh para wanita yang bercadar tadi. Mereka adalah “askar” (satpam putri). Mereka memeriksa seluruh isi tas bawaan kami, secara teliti.

Tidak dinyana, mereka menemukan handphone camera milik bu Rety, seorang anggota regu kami. Menurut Askar – handphone itu harus dititipkan kepada petugas penitipan barang yang ada dihalaman mesjid. “ Hajjah.. hajjah, amanat.. amanat, teriaknya kepada kami. Kami kaget untuk pertama kalinya, kami dipanggil hajjah. Hemmm.. belum haji kok sudah dipanggil hajjah...? Betapa pucatnya kami berlima yaitu : Aku, Ibu Rety, Ibu Uni, Ibu Armida, Ibu Dewi atas sikap mereka yang tegas. Kami menjadi “ limbung’ dengan Askar yang menggunakan jubah hitam serta mukanya ditutupi cadar itu. Ditengah kebingungan, kawatir handphone tidak bisa diambil lagi, akhirnya kami memilih sholat dipelataran luar Mesjid Nabawi.

Karena sholat dialam terbuka serta udara Madinah yang dingin, membuat diri kami ingin buang angin atau buang air kecil. Ibu Armida – teman kami, sudah tak tahan ingin buang hajat kecil. Ia terpaksa harus ketoilet. Sesaat tempat (sajadah) ditinggal bu Armida itu, ternyata sajadahnya diduduki seorang wanita India. Kami menyampaikan keberatan dan mengatakan kepadanya, bahwa sajadah itu milik teman kami. Namun apa katanya……….

” Ini bukan tempatmu. Ini rumah Allah”……….. seraya tangannya menunjuk keatas. Sambil Ia menggoyang-goyangkan kepalanya bak artis film India. Ia menyatakan, bahwa tidak satupun dari kami boleh menyatakan bahwa tempat yang ia duduki itu tempat kami. Mengertilah kami bahwa tidak seorangpun diperbolehkan menetapkan suatu kepemilikan di mesjid Nabi itu. Oh…… begitu. Asytagfirullahal adzim ..India.. oh india.

Mesjid Nabawi yang megah dan berlimpah cahaya memisahkan ruang sholat wanita dan pria agar terhindar dari percampuran jenis. Dalam suasana seperti ini aku melihat betapa besar kekuatan islam di dunia ini. Secara spektakuler dari barat ke timur, dari utara dan selatan, Nabi Muhammad SAW melalui para sahabat dan kekhalifahan sesudahnya telah menghimpun umat islam, untuk berdzikir kepada Allah SWT dan bersalawat kepada Rasulullah SAW.

Sebagai penghormatan atas perjuangan para sahabat Nabi khususnya Abu Bakar Siddiq dan Umar Bin Khatab, maka kedua sahabat Nabi itu, dimakamkan berdampingan dengan Rasulullah di Mesjid Madinah ini.

Pelaksanaan ibadah haji merupakan manifestasi persaudaraan muslim sedunia, karena haji merupakan muktamar tahunan atau silaturahmi akbar. Ziarah di Madinah , bagaikan muktamar bangsa-bangsa. Disini kita saling membawa budaya masing-masing, dengan aneka ragam penampilan dan tingkah laku. Cara mereka menunaikan ibadah sholat, ada yang berbeda dengan cara yang biasa kita lakukan. Aku melihat beberapa wanita Turkey, Iran yang membaca al-qur’an disaat sholat. Apapun yang mereka lakukan, semata-mata ingin menjalani ibadah secara khusuk.

Begitu pula dengan tata cara berpakaian, Khusus bagi jemaah wanita dari Afrika, Turkey, Iran, Pakistan. India, mereka berbusana yang benar-benar berbeda dengan jemaah wanita yang berasal dari Malaysia dan Indonesia. Yang menarik bagiku dan perlu aku ceritakan disini adalah, penampilan para wanita dengan ragam busana yang aneka ragam. Aku menyaksikan bagaimana gaya perempuan Afrika: Sudan, Nigeria, Guinea, Senegal, dll yang mendatangi masjid dengan pakaian mereka yang berwarna-warni “ permen nano-nano”, serba indah lengkap selendang menutup kepalanya. Bagi wanita Indonesia selendang mereka itu, digunakan untuk pesta-pesta perkawinan. Demikian pula para wanita Turkey, Magraby / Aljazair, Maroko, Iran, mereka menggunakan seragam yang berwarna senada dan diselimuti fasmina yang tebal dan indah. Wanita India dan Pakistan tak kalah dengan penampilan yang menarik. Aku menyaksikan dengan model rupa,, warna dan coraknya. Tampak wanita muslim di Masjid ini, bagaikan mengikuti fashion saja.

Sementara itu, kita menyaksikan betapa kebersahajaan wanita Indonesia. Umumnya wanita Indonesia menggunakan daster batik rumahan saja. Kemudian kepala ditutup mukenah sahaja. Suatu perbedaan yang seharusnya kita koreksi. Padahal sesungguhnya kita memiliki baju muslim lebih dari sekedar daster batik. Mengapa kita tidak menggunakan baju muslim itu ? apalagi untuk mengunjungi masjid yang megah dan berlimpah cahaya ini.
Menurutku adalah suatu info yang keliru ketikadi tanah air, aku disarankan cukup membawa 2 daster saja. Nanti thoh …… akan tertutup mukena. Menurutku ini suatu kekeliruan. Sebab bagaimanapun yang namanya ke Mesjid, tentu kita harus menempatkan diri dalam berpakaian.

Tidak dalam kebersahajaan saja namun bukan pula untuk bermegah-megah. Bagiku kerapihan dan penampilan harus tetap dipertahankan, tanpa mengurangi kekhusukan dan kekhidmatan dalam melaksanakan ibadah.

Aku menyebut pertemuan kami dengan wanita muslim sedunia itu, sebagai muktamar muslimat sedunia. Karena kita akan berkenalan dan beramah tamah dengan para wanita tersebut. Barisan shaf wanita Indonesia amat disukai wanita Turki, untuk menyelipkan tubuhnya yang besar agar bisa duduk diantara kita. Mulanya aku sedikit kaget dengan kebiasan mereka. Namum lama-lama kita nikmati saja prilaku mereka ini, karena saking sudah terbiasa.

Kami banyak berkenalan dengan wanita jemaah lain seperti : Turki, Magraby, Pakistan, Iran, dll. Namun kenalan kami yang satu inilain. Ia wanita Pakistan yang cerdas dan berpendidikan Master of Art. Namanya Aisyah. Untuk selalu berjumpa dengannya, kami menetapkan pilar Mesjid No 145 untukberjumpa dengannya. Kami berdiskusi mengenai masalah social, budaya termasuk agama dengannya, termasuk kritikannya bahwa umumnya wanita Indonesia, apabila tertidur di Mesjid Nabawi, tidak mengulangi Wudhunya. Hemmm.. malu juga hati ini.

Ketika aku bercakap-cakap dengannya, aku mempertanyakan mengapa wanita Pakistan, selalu ada permata dan emas yang ditindik pada hidungnnya, termasuk pertanyaanku - mengapa mereka selalu menghiasi tangan dan kakinya dengan inai. Juga mengapa mereka cenderung berpostur tubuh besar alias gemuk. ( Soal postur tubuh yang besar ini…. Malu aku menceritakannya)

Aisyah berkata : “inai dan anting di hidung adalah culture dinegaranya. Masalah kegemukan menurut dia sebagai akibat dari tidak ada kegiatan diluar rumah yang dilakukan wanita Pakistan, selain masak, tidur dan tidur. Perempuan tidak boleh bekerja dan beraktivitas diluar rumah. Akibatnya terjadi penumpukan lemak pada badan, demikian dia menjelaskan. That is no problem by her…, katanya sambil melirik wanita senegaranya. But I am so sad….

Dia menyatakan, hal yang menyedihkan ialah, umumnya wanita Pakistan tidak mempunyai kesempatan berkarir dan menempuh pendidikan.

“Bagaimana dengan Benazir Bhutto”, kata kami. Bukankah dia wanita karir. Seketika terjadi perubahan raut wajahnya. Tampak ketidak senangan nya pada Wanita yang pernah memimpin Pakistan itu. Akhirnya, Dia menyatakan kekesalannya bahwa Benazir Bhutto tidak lebih dari boneka politik yang menghabiskan uang Negara.

Ternyata Aisyah termasuk pihak yang tidak sejalan dengan pemerintahan Benazir Bhutto. Menurutnya pemerintahan Benazir Bhutto itu korup.

“ Wah …… hati-hati anda, nanti ada yang mendengar hujatan anda, kataku mengingatkannya,

” Ha…… Ha……ha.., tanpa sadar kami tergelak-gelak dan tertawa-tawa.

Ketika itulah pinggangku disikut oleh wanita Pakistan yang lain yang duduk disebelah kami. Ia marah pada kelompok kami karena tertawa kami yang cukup keras.

“Hey … ini mesjid …… dilarang ketawa keras-keras”. Kami saling mengingatkan. So…… mari kita beristigfar…… dan sholat toubat. Akhirnya pembicaraan kami akhiri, dan masing-masing kami bersegera melakukan sholat 2 rakaat.

Ada yang kuamati dari cara dan gaya, baik wanita Pakistan maupun India. Mereka membaca al quran sangat cepat dengan badannya bergoyang – goyang mengikuti irama kajiannya. Demikian pula Aisyah, apabila membaca al quran. Mereka sangat fasih dalam membaca alquran. Ternyata Aisyah adalah seorang guru Ibtidaiyah. Dia menerangkan, bahwa surah yang tinggi nilainya dan sering dibaca dalam sholat sholat hajat atau sholat mutlak lainnya adalah; al Kafirun, al ikhlas, al alaq, An nas.

Bagi orang Pakistan, surat yang tinggi nilainya dan setiap saat dibaca oleh muslim Pakistan selain ayat diatas, adalah Al Zalzalah. “That is important by us. Ia menjelaskan secara panjang lebar, kafiyat surat tersebut. Aku dan juga teman-temanku, cuma manggut-maggut karena tidak mengerti sekaligus bingung. Muslim Pakistan menganut Sunny seperti halnya Indonesia. Pantaslah sama tata cara ibadahnya dengan kita orang Indonesia.

Aisyah menyelesaikan sholat arbainnya lebih dahulu dari kami. Sebagai kenang-kenangan, aku menghadiahkan 1 gelang tasbih kepadanya. Entah……… hingga kapan kami akan berjumpa dengannya, walaupun kami mencatat alamatnya di Pakistan.

Untuk menghemat tenaga selama kita melaksanakan sholat arbain ini, kita dapat mengefektifkan perjalanan antara penginapan dan Mesjid dengan cara melakukan i`ttikaf di Mesjid sejak waktu dzuhur hingga isya tiba. Kadang kala seperti hal inilah yang sering kami lakukan, selama kami melaksanakan sholat arbain.

Bersyukur aku memiliki teman seperjalan yang menyenangkan, kompak menjadikan kami bersaudar.tolong – menolong dan keinginan yang sama untuk menjadi haji mabrur. Amin………………


Di mesjid Nabawi ini, tidak satupun dari kami menyia-nyiakan kesempatan untuk melakukan sholat arbain, sebgaimana sabda nabi Muhammad SAW:

“Sholat di Mesjidku (Mesjid Nabawi) lebih utama 1000 kali dibanding sholat dimesjid lainnya kecuali di Masjidil haram, dan Sholat dimasjidil haram lebih utama 100.000 kali dari pada sholat dimasjid lainnya” (HR. Ahmad, Ibnu Huzaimah dan Ahkim)

Bahkan Rasulullah SAW menambahkan, bahwa siapa yang sholat di Masjid beliau ini selama empat puluh sholat dan tidak tinggal satupun (beraturan), maka akan bersih (terlepas) dari siksa neraka, lepas dari azab dan bersih dari kemunafikan.. Wallahu Alam……

ROUDHAH :

Apa yang dimaksud dan bagaimana itu Roudhah ?.

Roudhah adalah suatu tempat didalam Mesjid Nabawi luasnya kira-kira 144 m2. Letaknya ditandai Qubah Hijau, bila dilihat dari luar Mesjid serta tiang-tiang putih yang berada diantara Makam Nabi (d/h rumah nabi) sampai dengan mimbar Nabi.

Tempat ini adalah tempat yang makbul untuk berdoa.

Dari Abu Hurairah (termasuk 5 orang ahli hadis), Rasulullah bersabda :

“ antara rumahku dan mimbarku adalah roundhah (taman) diantara taman-taman surga”.

Allah SWT akan menurunkan rahmatnya untuk mencapai suatu maksud dan doanya akan dijabah. Ditempat itu dilakukan sholat mutlak disertai dzikir dan doa kepada Allah.

Dari para jemaah wanita yang sudah lebih dahulu memasuki roudhah, aku dapat mengetahui bahwa terdapat suatu perjuangan untuk mencapai Roudhah. Sedangkan bagi jemaah pria tidak terlalu sulit untuk masuk ke Roudhah. Hal ini disebabkan lokasi Rhoudah, masih dalam lingkungan shaf pria. Bagi kami para jemaah wanita, ditentukan jam berkunjungnya, yaitu ba`da shubuh dan zuhur.

Pada hari kedua di Madinah, tanggal 21 Desember 2005, rombongan kami diantar seorang pemandu bangsa Arab, yang membawa kami kedekat kubah Hijau diluar mesjid. Semula kami mengira, kami akan mendapatkan prioritas masuk ke Roudhah. ternyata dugaan tersebut keliru, karena kami tetap melakukan antrian panjang di pintu Ali bin Abi thalib.

Banyak nian, jemaah wanita yang berhasrat ke Rhoudah disiang hari seusai ba.da zhuhur itu. Aku mencoba antri ditengah – tengah desakan wanita-wanita yang menanti dengan penuh harap. Hati para jemaah wanita dibuat berdebar-debar. Pintu masuk manakah yang akan dibuka lebih dahulu oleh para Asykar putri itu.

Ditengah desakan antrian yang padat itu, aku sempat terusik ketika seorang wanita “Malaysia” membaca surat Yasin persis ditelingaku. Bacaannya cukup memekakkan telingaku. Aku mencoba beristigfar…………Asytagfirullah al adziim…. Mungkin aku yang salah. Sesungguhnya iapun tentu juga berharap agar memperoleh kemudahan dalam memasuki areal Roudhah itu.

Punggung dan dadaku terjepit diantara desakan ratusan wanita yang antri. Ketika itu, jarakku dengan calon pintu masuk hanya 2 m. Aku benar-benar berharap ingin masuk. Aku bertahan. Keringat mengucur karena desakan kumpulan wanita yang ingin masuk ke areal Rhoudah. Aku mencoba berdoa sebagaimana Nabi Yunus As, berdoa dalam perut ikan.

“Bimillahiladzi laa ilaha illa anta subhanaka ini quntu minazzolimin…….

Didalam regu kami, semula kami mengantri secara berombongan. Akhirnya, satu persatu diantara kami meninggalkan antrian. Mungkin mereka sadar, bahwa tidak akan mungkin bisa masuk dalam antrian yang sedemikian padat itu. Ditengah hiruk pikuknya ratusan wanita yang saling berdesakan, itulah aku masih bertahan. Aku kaget karena terdorong, ketika ada seorang wanita gemuk dan bertubuh gempal datang membawa rombongan teman-temannya dari KBIH di Jawa Timur. Ia berupaya menembus barikade barisan hingga terdepan dari antrian itu. Akibat ulahnya itu, rombongan ini sangat menjepit dan memojokan diriku. Dadaku sesak karena ditekan. Akhirnya dengan kesabaran, aku bertanya kepadanya.

“Ibu, sabar …… ya Bu... dan apakah baru pertama kali ini Ibu ke Roudhah ini ?

dengan tertawa ia berkata: “ saya sudah dua kali ke Roudhah dan saya belum merasa puas” katanya.

“Astagfirullah…………… ucapku dalam hati

“Ibu beri kami kesempatan untuk antri,karena kami belum pernah kesana…, kataku kepadanya. Dia hanya tertawa dan sama sekali tidak mendengar saranku.

Jumlah rombongan kami yang semula banyak, sekarang tinggal aku dan ibu Haris Yadda yang tersisa. “Kita bertahan saja ya Bu……”, kata ibu Haris kepadaku. Mana tahu Allah berhati kasih kepada kita dan memberi kesempatan kita bisa masuk…… itulah tekad kami ketika itu.

Tiba-tiba pintu arah sebelah kiriku terbuka. Bagaikan suara lebah aku mendengar suara wanita berhamburan lari masuk menuju arah makam Rasul itu. Aku berdiri terbengong-bengong tidak berdaya dalam posisi terjepit. Padahal setahuku pintu itu hanya di peruntukan untuk wanita India, Pakistan dan Negara sekitarnya.

Entah siapa yang memulai, barisan ditempat kami, semua berteriak dengan serempak; Allahu Akbar………. Allahu……… Akbar……..

Para Askar menjadi berang dan berteriak: “Hajjah……… Haram…… Haram.. ! Mereka melarang perbuatan yang mengatas namakan Allah demi suatu ketidak sabaran. Ketika itu aku masih berfikir lugu “……… Ah …… masa iya sih, pintu kami ini tidak dibuka. Bila tidak dibuka tentunya Askar itu akan memberitahu kami.

Tiba-tiba antrian sebelah kananku terbuka lagi dan sesekali lagi kudengar gemuruh suara wanita yang berlari masuk menuju Roudhah. Barisan kami kembali berteiak Allahu Akbar – Allahu Akbar.

Betapa kecewanya hati ini, ternyata jam menunjukan pukul 10.00, berarti berakhirnya kunjungan jemaah wanita ke Roudhah itu.

Alhasil dari rombongan kami yang berjumlah k.l 30 orang yang berhasil memasuki Roudhah saat itu hanyalah Ibu Halimah Syafrul dan Ibu Nursamsu yang usia sudah 68 tahun. Dua perempuan ini ditakdirkan dapat masuk ke roudhah karena beliau berada pada posisi antrian paling belakang yang sebenarnya kecil kemungkinan dapat masuk. Namun ternyata berpeluang untuk lari masuk tanpa berdesakan diantara dua calon pintu yang akan dibuka. Alhamdulillah……

Dua teman sekamarku ibu Uni Herlati dan ibu Armida pada siang hari ba`da zuhur, berhasil memasuki Roudhah. Keduanya memberikan kiat untukmasuk ke Roudhah dengan strategi yang harus diperhatikan, yaitu :

- Berdoalah kepada pemilik masjid ini, yaitu Allah SWT tentang keinginan kita mengunjungi makam Rasul.

- Perhatikan pintu yang ada cameranya. Berdirilah diantara 2 pintu tersebut pada posisi belakang saja, sehingga lebih aman dan lancar untuk masuk.

- Perhatikan kepadatan pintu yang akan dibuka.

Biasanya, Askar demi keselamatan para jemaah wanita dari akibat desakan , untuk mengurangi tingkat kepadatan manusia, akan memilih pintu yang sedikit antrian dan jumlah kepadatannya. Keesokan harinya,kamis 22 Desember 2005 pada ba`da dzuhur, aku mencoba lagi untuk masuk ke Roudhah. Pada siang hari itu, aku mengalami kegagalan lagi masuk, karena hanya satu pintu yang dibuka dan akupun terlambat untuk masuk.

Pagi ini jumat 23 Desember 2005, sebenarnya aku mempunyai firasat bahwa, Roudhah akan dibuka pada pagi hari ini dan aku berharap benar agar aku dapat masuk pagi ini. Namun teman – temanku sekamarku tidak ada yang berkesempatan menemaniku. Mereka telah punya rencana berbelanja dengan kenalan kami, ibu Maya seorang TKW yang bekerja disebuah salon di kota madinah ini. Ternyata firasatku benar, bahwa pada hari Jum`at pintu Roudhah dibuka seleruhnya dan hamper 90% para wanita berpeluang masuk ke Roudhah tesebut.

Aku sangat kecewa sekali saat itu apakah aku ini termasuk orang yang tidak di ridhoi oleh Allah SWT untuk berkunjung ke makam Rasul ini. " Ada apa dengan diriku ya Allah ?


HARI KE EMPAT DI MADINAH : SHOLAT JUM`AT (Tanggal 23 Desember 2005) :

Pada waktu sholat jum`at 23-12-2005, aku mengalami suatu hal yang menakjubkan hati. kebetulan kami hanya memperoleh tempat dipelataran mesjid Nabawi, mengingat begitu padatnya jemaah yang melakukan sholat jum`at. Aku masih sempat mencandai temanku Ibu Rety bahwa mungkin inilah baru pertama kali baginya melaksanakan sholat bagaikan orang pergi tamasya. Betapa tidak, si ibu ini melaksanakan sholat dengan menggunakan topi tamasya.

Aku merasakan sesuatu yang lain pada siang hari ini. Cuaca disekeliling kota Madinah kelihatan terang dan terik, namun masih ada hembusan angina dingin. Aku mengamati bahwa diatas Mesjid Nabawi terdapat awan yang memayungi masjid ini. Aku merasa merinding, seakan didekat kami berdiri Rasulullah SAW. Aku teringat bahwa Rasulullah pernah di payungi awan ketika dalam perjalan beliau pad masa kanak-kanaknya ke negri Syam(Syiria-sekarang).

Aku menceritakan hal ini kepada bu Maya kenalan kami, yang telah bermukim di Madinah selama 7 tahun, perihal masjid Nabawi yang berpayung awan. Menurut bu Maya hal seperti ini sering terjadi ketika musim Haji. Penduduk Madinah menamakan para penziarah pada musim haji ini disebut haji Nabi. Sebetulnya apa arti Haji/Hajjah ? sebutan haji/hajjah ternyata panggilan kepada muslim yang artinya saudara/saudari.


HARI KE LIMA DI MADINAH :

Pada sabtu dini hari aku maelaksanakan sholat Toubah, sholat Hajad, sholat Witir dan berdoa untuk bermunajat kepada Allah aku ingin memasuki roundah.

“Dengan izinMu ya Allah, aku mohon Engkau merido`I dan memberiku kesempatan agar dapat mengunjungi makan Rasulmu. Namun bila Engkau tak merido`I tak mengapa bagiku.

Sesungguhnya Masjid Nabawi ini area Roudhah yang dapat dijadikan tempat untuk berdoa.

Disinilah ujian kesabaran benar-benar aku alami. Selepas shubuh dengan dada gemuruh berharap cemas, aku mencoba sabar duduk menunggu. Kadang aku duduk dan kadang aku berdiri, beristigfar dan segala doa dan harapan trerucap dalamhati. Strategi yang dibuat askar,menyebabkan tidak ada satupun bisa menduga pintu manakah yang akan dibuka ?

Kadang kala askar membuat pagar/pemisah diantara 3 antrian. Ada kecenderungan untuk menghimpun kami para wanita dalam suatu jebakan bahwa pintu kami akan dibuka. Disini aku membuat ketetapan hati dan pernyataaan sikap, seperti yang aku utarakn pada ibu Armida temanku. Nahwa bila mana sampai jam 10.00 akumasih gagal masuk ke Roudhah ini, maka akusudah berketetapan tidak akanmengikuti antrian lagi. Aku mempunyai tekad mengunjungi Roudhah pada kesempatan umroh/haji berikutnya ,inipun bila di izinkan Allah SWT…… (…… seketika sadar bahwa semuanya atas izin Allah).

Ketika para jemaah wanita mulai diarahkan para askar menuju pintu tertentu. Aku hampir terpengaruh. Aku mengajak bu Armida ke pintu tertentu itu. Tiba-tiba didekatku berdiri seorang wanita yang berasal dari Medan. Ia berkata padaku : “Ibu,…… tidak perlu berpindah-pindah tempat.

Saya sudah tiga kali ke Roudhah dalam suasana yang longgar dan tidak berdesak – desakan, persis suasana seperti ini”, katanya.

Suasana tempat aku berdiri memang mulai sepi,karena ditinggal oleh para wanita-wanita yang berpindah tempat untuk antri ketempat yang diarahkan askar. “Ah masa iya…………, bisikku.

Wanita Medan itu bercerita bahwa ia berserah diripada Allah SWt, agar ia diberi kesempatan sholat di roudhah. “Saya merasa biaya kesini sangat mahal dan tidak tidak akan mungkin saya dapat mengunjunginya lagi.”, katanya. Aku senyum dan berkata padanya : “ Bu saya juga telah bermunajat pada Allah, agar saya dapat mengunjungi makam Rasul”.

Antara keraguan mengikuti nasehat tersebut dan keinginanku untuk berpindah tempat, ketika itulah pintu dibelakang kanan kami berdiri terbuka. Aku berteriak histeris dan berlari seperti memiliki kaki sempurna masuk ke pintu itu. Ibu Armida mengingatkanku agar tidak usah berlari. Aku menangis dan terus menangis menuju makam Rasul.

Wanita Turki, Iran, Pakistan, India, Afrika dan Negara – Negara lainya juga teriak histeris. Ternyata untuk masuk makam Rasul dibatasi lagi oleh sebuah pintu, dengan tujuan untuk mengurangi kepadatan areal makam. Disini berbagai cara dan ragam, para jemaah menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW. Namun dalam tuntunannya, kami mengucapkan : “Selamat sejahtera atasmu wahai Rasulullah, rahmat Allah dan berkah Nya untuk mu, selamat sejahtera atas mu wahai nabiullah …… Dst.

Ketika didepan pintu masuk Roudhah, kembali para wanita berdeskan. Disini aku menyaksikan betapa tertibnya wanita Indonesia yang kebetulan saat itu berasal dari suatu rombongan ibu-ibu dari suatu KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji). Mereka duduk dengan tertib dan menyampaikan salam ke Rasulullah dan melaksanakan sholat sunnah 2 rakaat. Aku mengikuti perbuatan yang baik ini.

Didepan pintu masuk Roudhah, kami harus antri lagi untuk memberi kesempatan wanita yang masih didalam makam untuk melakukan sholat mutlak dan berdoa. Dipintu masuk Roudhah ini, aku bertegur sapa dengan seorang wanita Iran. Dia menanyakan buku doa yang ku baca. Aku menunjukkan buku paduan doa kepadanya serta mengajaknya membaca bersama. Kami bertiga, seorang wanita Iran yang berfaham Syiah dan seorang wanita Sudan, membaca doa dipintu Roudhah tersebut. Subhanallah … , bertapa bersatunya islam dalam suasana seperti ini. Ternyata melalui pertemuan ini dapat menghilangkan perbedaan mahzab diantara kita umat islam.

Ketika didalam Roudhah, aku hanya mampu sholat berdiri, terayun – ayun oleh desakan manusia. Aku hanya bisa berkonsentrasi dan membayangkan wajah anak- anakku, kakak2/ saudara/kerabat dan handai tolan untuk menyampaikan hajat atas permintaan mereka kepada Yang Maha Kuasa, yang semuanya tidak mampu aku sebutkan satu persatu namanya. Pada intinya, aku memohon ampunan atas diriku, dosa kedua orang tuaku, anak-anakku, nenek dan semua kaum kerabatku, kakak2 termasuk guruku serta sekalian orang mukmin dan muslim. Aku menyampaikan harapan, agar mereka diberikan rezeki. Agar pada suatu saat nanti, mereka juga memperoleh kesempatan memenuhi panggilan Allah SWT serta mengunjungi tanah haram ini. Aku menyampaikan hajat dari kerabat/handai tolan yang secara khusus menitipkan pesan kepadaku. Termasuk menyampaikan salam untuk Rasul, dari orang yang pernah berhaji dan pernah mengunjungi makam Rasul ini.

Menurutku, doa yang kita sampaikan ini akan diijabah (diterima), apabila harapan dan doa ini juga diniatkan pula oleh si yang ber hajat.

Aku memetik 2 hikmah dari kunjungan ke Masjid Nabawi ini serta ziarah ke Makam Nabi. Bahwa pernyataan keislaman kita diucapkan dalam ikrar yang tersebut dalam 2 kalimah Syahadat,

- Syahadat pertama, yaitu “Ashadu alla ila ha illallah. adalah kita mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah. Pernyataan ini menjadi sempurna ketika kita menunaikan ibadah haji serta beribadat di Baitullah – Tanah Haram Makah. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.

- Sedangkan syahadat yang kedua, yaitu “ Wa Ashadu Anna Muhamma Rasulullah”, adalah ikrar kita atas kerasulan Nabi Muhammad Saw.

Dengan mengunjungi Masjid Nabawi serta menziarahi makam nabi Muhammad SAW, merupakan kesempurnaan iman islam kita terhadap pelaksanaan ikrar kita yang kedua.

Bagiku, ini adalah pengalaman batin dan tentunya diantara kita tidak sama pemahaman dan pemaknaannya. Mudah – mudahan tidak hanya orang yang melakukan perjalanan ini saja, yang menemukan hikmah-hikmah seperti ini.

Dalam menunaikan ibadah haji ini, kita beribadah dan berwukuf di Arafah. Tidak sah haji seseorang, bila mana ia tidak melakukan wukuf di Arafah ini. Bila dimaknai lebih mendalam, maka ibadah haji mengandung kemaslahatan bagi seluruh umat islam pada sisi agama dan dunianya. Mengapa? Karena aku merasakan bahwa ibadah haji ini, menjadi ibadah perjalanan rohani dan persaudaraan muslim sedunia.

Berziarah di Kota Madinah :

Perlu dicatat, berziarah ke Madinah Al Munawarah adalah untuk menziarahi makam Rasul dan sahabatnya serta menziarahi kaum Muhajirin yang menjadi syuhada bagi penyebaran Islam. Ziarah ini sunah hukumnya, karena bukan bagian dari ibadah haji.

Sudah menjadi paket perjalanan bagi jemaah haji dari Indonesia, termasuk para jemaah haji dari seluruh dunia. Para jemaah diberikan kesempatan untuk menziarahi Mesjid Quba, Mesjid Qiblatain, kebun kurma nabi, Jabal Uhud, tempat para syuhada gugur pada perang Uhud. Mesjid Quba adalah mesjid yang terletak di daerah Quba – sebelah barat daya Madinah. Mesjid ini pertama kali di bangun oleh Nabi Muhammad SAW ketika berhijrah ke Madinah dari Mekkah, dalam usia 53 tahun.

Didalam mesjid ini pula, pertama kali dilakukan solat berjamaah secara terang – terangan. Dalam kunjungan ini, kami berkesempatan melakukan sholat 2 rakaat.



Menurut Hadis riwayat Ahmad Nasa`I, Ibnu Majah,Hakim, dan ia berkata sanadnya sahih :

“Setiap hari RAsulullah mendatangi Masjid Quba berkendaraan atau berjalan kaki dan beliau sholat 2 rakaat didalamnya. Rasulullah memberikan dorongan / menganjurkan datang ke Mesjid Quba seraya berkata:

Setiap saja bersuci (membersihkan diri dari Najis dan Hadast) di rumahnya, kemudian datang ke Mesjid Quba dan sholat didalamnya, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala umroh.

Pantaslah ketika kami akan berziarah ke mesjid ini, pemandu kami menganjurkan agar berwudlu terlebih dahulu, sehingga kita tidak berdesak-desakan dengan ratusan jemaah yang mengunjungi mesjid ini. Subhanallah……………………………

Mesjid Qiblatain,adalah mesjid berkiblat 2, yaitu semula kiblatnya ke Baitulmaqdis. Namun setelah turunya wahyu, sebagaimana tercantum dalam surat Al Baqaroh 144, kiblat mesjid diubah menghadap Ka`bah di Makkah. Aku mengurungkan niat untuk sholat di sini mengingat waktu yang sangat terbatas.


Semua acara ziarah ini kami upayakan agar dapat berakhir, sebelum sholat dzuhur tiba. Tidak ada satupun diantara kami, anggota rombongan, mau meninggalkan waktu sholat dzuhur (arbain) di Mesjid Nabawi saat itu.



HARI KEDELAPAN DI MADINAH - Tanggal 27 Desember 2005


Hari ini adalah hari kedelapan kami di Madinah. Dihari terakhir ini aku ingin aku ingin mengunjungi Roudhah lagi.

Setelah sholat subuh, kami bertiga, aku bersama Ibu Armida dan ibu Dewi mencoba mencuri kesempatan untuk ikut antrian didepan pintu roudhah tersebut. Ketika pintu yang tidak jauh didekat kami terbuka cukup lama k.l 20 m, kami masih berharap pintu yang lebih dekat dengan kami terbuka pula. Sungguh kami tidak menyadari betapa pintu yang sudah terbuka tersebut dan sudah dimasuki oleh puluhan wanita akhir itu, akhirnya ditutup. Ternyata ini adalah satu-satunya pintu yang dibuka petugas di pagi hari ini. Kami tidak mendengar jerit suara histeris dan hiruk pikuk wanita yang berhamburan masuk sebagaimana biasanya mengiringi pintu yang terbuka. Kami baru sadar, ketika spanduk pengumuman dipasang oleh askar, yang menandakan bahwa waktu kunjungan ke Roudhah telah berakhir. Kami jadi heran. Kok jadi begini..?

Mengisi waktu diMadinah selama 8 hari sungguh teras tidak lama,yang kami isi dengan rutinitas bangun dini hari 02.30. Sebelum menuju mesjid kelompok kami selalu mampir terlebih dahulu menikmati teh “cucu” pada suatu restoran dipojok dekat rumah kami. Teh cucu merupakan campuran susu kambing dengan “ lipton tea”. Teh cucu diminum hangat-hangat, ketika menembus udara malam menuju mesjid Nabawi, yang jaraknya 1,5 km dari tempat pengingapan kami.

Ketika hitungan sholat arbain telah mencukup 40 waktu, maka setelah sholat isya aku dan teman-temanku melakukan sholat hajad. Hajad kami sampaikan, untuk menyampaikan keinginan kami untuk berziarah kembali ke kota Madinah Al Munawah dengan mesjid Nabawi yang indah, megah dan cantik yang digelari dengan 94 nama.

HARI KESEMBILAN DI MADINAH - Sholat subuh di Mesjid Ijabah - Madinah

Tanggal 28 Desember 2005,

Pagi ini, sebelum keberangkatan kami ke Kota Mekkah Al Mukaromah, aku dan teman-temaku melakukan sholat subuh di Mesjid Ijabah tidak jauh dari penginapan kami. Mesjid Ijabah salah satu mesjid yang dikunjungi Nabi pada saat ke Rasulannya. Bahkan nabi pernah menyampaikan hajatnyakepada Allah SWT di dalam Mesjid ini.

Dari Shahih Muslim : Rasul memohon kepada Allah SWT atas 3 hal/permohonan. Allah Swt mengabulkan 2 permohonan Rasul dan menolak satu permohonannya.

Nabi berkata :

Aku memohon kepada Allah agar tidak membinasakan umatku dengan kekeringan dan kelaparan dan Allah mengabulkannya.

Aku memohon agar tidak membinasakan umatku dan menenggelamkanya dalam bencana dan Allah mengabulkannya.

Aku memohon agar tidak ada fitnah dan perbedaan diantara umatku, tetapi Allah tidak mengabulkannya.

Fitnah antar sesama umat muslim sangat dikawatirkan Rasulullah SAW, menjelang beliau meninggalkan dunia yang fana ini. Bila ditafsirkan makna dari permohonan Rasulullah tersebut, maka permohonan Rasulullah yang ketiga terasa berat bagi Allah untuk mengabulkan.

Manusia memiliki akal dan budi, yang dapat mengatasi adanya perbedaan dan fitnah diantara sesama.Adanya perbedaan ini, maka terdapat lebih dari 70 mazhab yang berasal dari berbagai faham dan aliran didunia ini.

Di Mesjid ini aku dan teman-teman seperjalanan, melakukan sholat Safar, karena beberapa jam lagi kmi akan melanjutkan perjalanan ketanah suci Mekkah.

KEBERANGKATAN MENUJU -Tanggal 28 Desember 2005,

Pukul 08.00 kloter 27 yang terbagi dalam 10 rombongan/bus, meninggalkan kota AMdinah kota yang berjuluk 94 nama ini menuju Bir Ali-sebagai tempat untuk Miqot, bagi para calon jemaah haji yang datang dari kota Madinah. Setiap jemaah yang memasuki kota Mekkah, di wajibkan menggunakan pakaian ihram di tempat miqot. Saat ini, rombongan yang akan memasuki kota Mekkah, sekaligus melakukan umroh sebagai bagian dari tata cara pelaksanaan – Haji Tamattu.

Bir Ali atau Zuhulaifah, dan bisa disebut Abar Ali ditetapkan sebagai daerah miqot, tempat start dimulainya ibadah pelaksanaan ibadah umroh. Dari tempat inilah dulu Rasulullah mulai miqot ketika melaksanakan ibadah haji pertama kali beberapa abad silam.

Semua jemaah pria memakai pakaian ihrom yang terdiri dari 2 lembar idaar ( diselendangkan dipundak) dan izaar (dipakai melilit bagian perut ke bawah), dan sandaltidak menutup mata kaki. Pakain putih-putih tak terjahit yang akan menjadi “kain kafan” pembungkus mayat kelak.

Siang itu resmi dipakai oleh para jemaah dan hanya itu yang boleh menempeldi badan. Tidak boleh pakai “cd” alias celana dalam,dan kepala harus bebas tanpa peci atau kopiah.kecuali jemaah wanita boleh menutup kepala dengan kain sholat, kecuali muka harus terbuka.

Di Mesjid Bir Ali terlebih dahulu kami melakukan solat tahiyatul mesjid dan dilanjutkan solat sunah umroh.

Bagian dari rukun umroh adalah memakai pakain ihrom disertai dengan niat umroh yaitu:

“Labbaiku Allahumma umratan”

Artinya aku sambut panggilanmu Ya Allah untuk berumroh atau

Nawaitul umrotan wa ahromtu biha lillahi ta ala.

Dalam perjalan perjalanan Madinah – Mekkah, kami bersama – sama membaca:

“LABBAIKU ALLAHUMMA LABBAIK”

LABBAIKA LAA SYARIKA LAKA LABBAIK

INNAL HAMDA WANNI`MATA LAKA WAL MULK, LAA SYARIKA LAK

Aku datang memenuhi panggilamu ya Allah, aku datang memenuhi panggilanMu.

Tidak ada sekutu bagiMu, ya Allah aku penuhi panggilanmu. Sesungguhnya segala puji dan kebesaran hanyalah untukMu semata. Segenapa kerajaan untuk Mu. Tidak ada sekutu bagimu.

Bagi kaum pria hendaknya membaca talbiyah ini dengan keras, sedangkan bagi wanita hendaknya mengucapkan dengan suara pelan. Kemudian perbanyaklah membaca talbiyah, dzikir dan istigfar serta menganjurkan berbuat baik dan mencegah kemungkaran.

Para jemaah kembali menaiki kendaraan, bus mulai bergerak menembus padang pasir menuju Maekkah. Dalam perjalana ini, betapa kagetnya aku menyaksikan padang pasir yang benar – benar tandus dan gunung-gunung/bukit-bukit yang tidak ditumbuhi tanaman sehelaipun.

Seperti diketahui jarak Madinah –Makkah 496 km, melalui jalan mulus bebas hambatan. Dalam kondisi normal Madinah-Makkah biasa ditempuh dengan lima jam saja. Kiri-kanan tak ada pepohonan. Dikejauhan tampak gugusan bukit batu dan padang pasir yang masih diselimuti kabut. Tak ada music kaset seperti yang diputar bus-bus ditanah air.


Bus kami melaju tenang. Sepanjang jalan Karom – Kepala Rombongan, kami “Haji Djunaidi”sekali-kali membimbing,jemaah mengumandangkan bacaan talbiyah dan salawat. Labbaik Allahumma labbaik (aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah). Disuatu tempat yang sangat sederhana di padang pasir, kami melaksanakan sholat Qasar dzuhur dan ashar dengan kondisi MCk yang sangat minim. Entah apa penyebabnya, setelah melanjutkan perjalanan dari tempat pemberhentian sholat tadi, bus kami mengalami gangguan mesin.

Bus yang kami tumpangi, dari Perusahaan bus “Farroug Jamil Khooger”, bertanggung jawab atas perjalanan kami, sehingga perusahaan ini segera melakukan pergantian bus.

Padang pasir ini sangat luas sejauh mata memandang, terlihat pasir-dan pasir batu dan batu, Serta gunung batu tidak ada ada satupun pemandangan hijau.

Dari dalam bus di kejauhan,aku melihat beberapa ekor unta tegak berdiri. Disini aku berfikir, apakah yang dimakan seekor unta yang berdiri itu ditengah gurun tandus ini.

Allah SWT berkehendak bahwa negri yang tandus ini akan mendapatkan rahmat dari Allah SWT

sebagai mana permintaan doa Nabi Ibrahim AS pada Allah SWT.

“Ya allah jadikanlah negri ini negri yang aman dan berikanlah rizki dari buah –buahan kepada penduduk yang beriman kepada Allah dan hari akhir.”

Sampai sekarang doa Nabi Ibrahim AS ribuan tahun lalu itu, masih tetap dikabulkan. Makkah yang gersang adalah sarang buah-buahan apa saja, seperti ; apel, pisang, jeruk, delima, anggur, pir dapat kita temukan di hampir semua sudut Mekkah.

Menjelang memasuki Kota Mekkah, pukul 17.00 waktu S.A, bus kami berhenti di pintu pemeriksaan (check-point) menjelang memasuki kota Mekkah. Disana tertulis dalam sebuah spanduk besar Makkah for Muslim Only. Di kantor Chek Point itu, paspor haji di periksa ulang. Pemeriksaan berlangsung sekitar 1 jam. Sambil menunggu, para jemaah diberi minum air zam-zam serta 1 bingkisan yang berisi roti, juice buah, buah. Alhamdulillah diriku ini serasa tersanjung dan sangat dimuliakan oleh pemerintah S.A, disertai sambutan spanduk Allahumma Hajjan Mabruron. Semoga menjadi haji yang mabrur yang tersedia dalam 6 bahasa.




Minggu, 18 November 2007

NASEHAT UNTUK PRIA

1. Jangan ngeri dengan wanita, karena singa berani menghadapi lawan satu
kawanan unta tanpa perasaan takut sedikitpun.
2. Jangan mengeluh pada wanita atas beban yang ditimpakan pada Anda,
sebab keledai membawa bebab berat yang sangat berat tanpa mengaduh.
3. Jangan pusing dengan tuntutan seorang wanita atas keinginan yang harus Anda capai, sebab Anjing selalu mengejar mangsanya walau harus masuk kedalam api.
4. Seorang pria hendaklah seperti semut dalam ketekunan, Semut berusaha merambat naik ke batang pohon hingga ratusan kali dan jatuh sebanyak jumlah yang sama. Namun ia berusaha sampai pada tujuannya. Karena itu, jangan mudah menyerah dan jangan pula bosan terhadapnya.
5. Jadilah lebah, menyantap makan yang baik dan mengeluarkan yang baik pula. Jika hinggap diatas dahan dia tidak merusaknya atau diatas bunga dia tidak mengoyaknya.
6. Seumpama wanita adalah nyamuk yang selalu berusaha mengganggu dan menyakiti singa (seumpama pria), namun semua itu tidak menarik perhatian singa. Singa tidak pernah menoleh kepadanya. Sebab singa sudah sibuk dengan target-targetnya yang harus dimangsanya ketimbang seekor nyamuk.
7. Seumpama (wanita) seekor kucing betina, ia memiliki kasih yang luar biasa pada anaknya, dimandikannya dengan jilatan lidahnya, digendong dengan giginya yang kecil mungil. Ia berharap anaknya terhindar dari seekor kucing garong, yang anaknya sendiri dimakannya.
8. Wanita selalu berkata : Sungguh beruntung engkau .. Wahai burung..! (seumpama pria). Engkau menukik ke kedalaman air sungai, hinggap diatas pepohonan, mematuk buah-buahan apa saja tanpa pernah membayangkan bahaya kan datang. Engkau lebih berbahagia dari manusia (wanita).
9. Jika engkau menganggap wanita adalah borok, janganlah Anda berlaku seperti lalat yang suka hinggap diatas luka. Jangan menginjak-injak kehormatan wanita.
10. Janganlah mengutak-atik aib wanita. Bahkan merasa senang dengan kelemahan wanita dan menginginkan kejatuhannya.
11. Perlakukanlah wanita dengan baik, sebab mereka berada ditulang rusukmu. Ia bukan sebagai bawahanmu dan bukan pula sebagai atasanmu, melainkan ia sangat dekat di hatimu.
12. Terhadap suaminya, Wanita sangat memerlukan dirimu ;
- sebagai selimut hangatnya dikala ia tidur.
- sebagai sahabatnya dikala ia punya cerita,
- sebagai penesehatnya dikala ia butuh bimbinganmu.
- Sebagai guru dikala dia butuh banyak belajar tentang dunia.
- Sebagai pacar abadinya dalam berkasih mesra.
- Ia butuh bantuanmu dikala ia mengasuh anak-anakmu
- Ia mengharapkanmu sebagai payungnya, rumahnya tempat ia berlindung hingga nanti.
13. Harapan wanita terhadap semua pria,
- Perlakukanlah kaum wanita dengan baik, sebab mereka adalah yang membantu kalian.
- bersikaplah lembut kepada kaum wanita
- doakanlah dia, karena dari seorang wanita lah kalian lahir didunia ini.
14. Percayalah…!, Allah menempatkan wanita pada tempat yang baik, sebagaimana firmanNya.
“ Dan,bergaullah dengan mereka (wanita) secara patut.( QS, An- Nisaa : 19).
“ Dan, Dia jadikan diantara kamu rasa kasih dan sayang (QS. Ar-Ruum : 21)

Kamis, 15 November 2007

Tips – Tips Untuk Menjadi Orang Yang Paling Bahagia



1. Iman :
Keimanan menghapuskan keresahan dan melenyapkan kegundahan. Keimanan adalah kesenangan yan diburu oleh orang – orang yang bertauhid dan hiburan bagi orang – orang ahli ibadah. Bertwakallah kepada Allah Swt dan serahkan semua perkara kepadanya. Terimalah semua ketentuan Nya dengan sepenuh hati.
“ Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi hidayah
pada hatinya (QS, At-Taghabun : 11)
2. Tawakal :
Bertwakallah kepada Allah Swt dan serahkan semua perkara kepadaNya. Terimalah semua ketentuan Nya dengan sepenuh hati
“ Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa (QS, An-Nahl : 128)
3. Bersyukur :
Bersyukurlah kepada Rabb atas nikmat iman, akal, kesehatan, pendengaran, penglihatan, rezeki, keluarga serta nikmat-nikmat lainnya.
“ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu (QS, Ibrahim : 7)3. Berbuat baik :
4. Bersihkan jiwa dari dengki dan jernihkan hati.
Keluarkan penyakit permusuhan dan percekcokan dalam jiwa. Maafkanlah orang yang pernah melakukan kezhaliman kepada Anda, sambunglah tali silaturahmi dengan orang yang telah memutus silaturhami dengan Anda.
5. Perbanyaklah membaca istighfar, sebab dengan istighfar akan ada rezeki, akan ada jalan keluar, akan ada ilmu yang berguna, akan ada kemudahan, akan ada penghapusan dosa.
6. Perbanyaklah membaca kalimat tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan la hawla walaa quwwata illah billahi :
Bacaan ini akan membuat hati menjadi tentram, membuat yang berat menjadi ringan dan membuat Yang Maha Kuasa menjadi ridha.
7. Bacalah selalu Laa illahaa illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimiin.
Sebab doa ini memiliki rahasia yang sangat ajaib untuk melepaskan seseorang dari kesulitan, dan merupakan berita yang agung tentang dihapuskannya cobaan.
8. Setelah itu jangan terlalu ketat menekan diri untuk melakukan ibadah. Lakukanlah yang sunnah dengan ketaatan yang sedang-sedang saja. Jangan berlebihan.
Karena masih ada tugas mulia menanti Anda, yaitu mencari rezeki, mengabdi kepada negara, melayani masyarakat untuk memperoleh kebahagian didunia dan di akhirat. Semua itu adalah bagian dari ibadah.!
Setelah itu ………………,
Berpikirlah tentang keberhasilan Anda, tentang hasil pekerjaan Anda, tentang kebaikan apa yang telah Anda buktikan kepada orang lain.
Kemudian……….,
Bergembiralah dengan semua itu dan bersyukur kepada Allah SWT.
Jika……………, Anda tidak menikmati kebahagian dengan waktu yang ada, maka jangan pernah menunggu kebahagiaan yang akan menghampiri Anda dari cakrawala dan turun dari langit.

Sabtu, 10 November 2007

Nikmatnya Ilmu Pengetahuan

"Bila anda ingin bahagia, tuntutlah ilmu, galilah pengetahuan, dan raihlah pelbagai manfaat, niscaya semua kesedihan, kepedihan dan kecemasan itu akan itu sirna", demikian nasehat dari sahabatku. Alhamdulillahh aku menemukan seorang sahabat yang memberi nasehat berharga itu. Ketika itu kubuka al qur'an yang kariim, dan kucari surah yang menguraikan tentang ilmu, ternyata dalam Surat Hud : 46 tertulis , .. Sesungguhnya Aku mengingatkan kepadamu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan. Ilmu adalah cahaya bagi hati nurani, kehidupan kehidupan bagi roh/jiwa serta bahan bakar bagi tabiat. Dalam surah An Nisa' : 113, Dan Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalh karunia itu sangat besar.Kebodohan merupakan tanda kematian jiwa, terbunuh kehidupan dan membusuknya umur.
Jadi kebahagian, kedamaian, dan ketentraman hati senantiasa berawal dari ilmu pengetahuan. Ilmu mampu menembus yang samar menemukan sesuatu yang hilang, dan menyingkap hal yang tersembunyi. Selain itu naluri dari jiwa manusia adalah selalu ingin mengetahui hal-hal yang baru dan ingin mengungkap sesuatu yang menarik. Terima kasih Tuhan.. Engkau selalu mendampingi. Rabbana zalamnaa anfusanaa wa illam targ fir lanaa wa tarhamna laa na kunannaa minal khasyiiriin, bisikku